Advertisement

iklan

Dolar AS Bergumul Dengan Ekspektasi Pelonggaran Moneter Tambahan

Dolar AS kembali ke jalur bearish akibat spekulasi suku bunga, potensi dampak wabah virus Corona, dan kekhawatiran menjelang pemilu AS 2020.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Dolar AS terbanting kembali ke jalur bearish. Meski Federal Reserve telah memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin kemarin, tetapi trader memperhitungkan besarnya kemungkinan dilakukannya pelonggaran moneter tambahan dalam tahun ini. Saat berita ditulis pada pertengahan sesi Eropa (5/Maret), indeks Dolar AS (DXY) melemah sekitar 0.3 persen ke kisaran 97.11. Greenback melemah paling parah versus Poundsterling dan Dolar New Zealand yang diuntungkan oleh posisi suku bunga bank sentral lebih tinggi untuk sementara.

DXY Daily

Beige Book yang dirilis kemarin malam, menunjukkan bahwa perekonomian AS menghadapi risiko dari ketidakpastian politik dalam pemilu AS 2020 dan ketakutan terhadap dampak wabah virus Corona. Laporan tersebut dianggap sebagai argumen yang cukup kuat bagi The Fed untuk memangkas suku bunga lagi secara agresif.

Beige Book memaparkan, "Ada indikasi bahwa virus Corona memengaruhi perjalanan dan pariwisata di Amerika Serikat secara negatif. Aktivitas manufaktur berekspansi di sebagian besar negeri; tetapi, sejumlah penundaan rantai pasikan dilaporkan terjadi karena virus Corona, dan beberapa distrik mengatakan para produsen mengkhawatirkan gangguan lebih jauh dalam beberapa pekan ke depan."

Saat ini, suku bunga The Fed berada pada rentang 1.00-1.25 persen. Tapi menyusul publikasi Beige Book, pasar uang memperhitungkan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi pada rapat The Fed 18-19 Maret 2020, serta pemangkasan 50 basis poin pada bulan April.

Sementara itu, pelaku pasar juga melirik perkembangan dalam pemilihan pendahuluan bakal calon presiden partai Demokrat AS. Kandidat paling top, Bernie Sanders, dianggap pro-sosialis dan anti-pasar, sehingga kemajuannya dalam pemilihan pendahuluan bakal membebani USD. Sebaliknya, pesaing terdekatnya, mantan wapres Joe Biden, dianggap lebih ramah pasar dan disukai oleh investor. Tambahan dukungan untuk Biden berpotensi mengokohkan USD.

292238

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.