Advertisement

iklan

Kemerosotan Yield Obligasi AS Melemahkan USD

Penulis

+ -

Minggu ini kita melihat kelemahan USD yang kian mencolok. Mengapa? Alasan pertama, Gubernur The Fed, Janet Yellen, dalam testimoni-nya kemarin bungkam tentang arah kebijakan apa yang akan diambilnya kedepan. Kedua, disinyalir kemerosotan yield obligasi 10-tahunan AS mengakibatkan banteng-banteng USD kesulitan untuk bangkit.

iklan

iklan

Minggu ini kita melihat kelemahan USD yang kian mencolok. Mengapa? Salah satu alasan adalah karena Gubernur The Fed, Janet Yellen, dalam testimoni-nya kemarin bungkam tentang arah kebijakan apa yang akan diambilnya kedepan. Ia hanya mengatakan akan terus melanjutkan tapering, titik. Sebab kedua, disinyalir kemerosotan yield obligasi 10-tahunan AS mengakibatkan banteng-banteng USD kesulitan untuk bangkit.
Kemerosotan Yield Obligasi AS Melemahkan USD

Kaitan Antara The Fed, Obligasi AS, Dan USD

Analisa intermarket yang melibatkan pengamatan atas dinamika pasar forex, saham, komoditas, dan obligasi, jarang menjadi perhatian trader karena umumnya trader ritel hanya beraktivitas di satu atau dua pasar saja. Namun sebenarnya pergerakan harga forex tak bisa dilepaskan dari aktivitas di ketiga pasar lainnya. Naiknya minat akan emas sebagai safe haven misalnya, telah umum dikenal mendepresiasi US dollar. Sebaliknya, harga minyak mentah akan cenderung melonjak bila US Dollar melemah terhadap mata uang mayor yang lain. Pun, naik turunnya nilai tukar bisa menentukan naik turun nilai saham dari perusahaan berbasis ekspor dan atau impor.

Obligasi pemerintah seperti US Treasury dengan jangka 10 tahun (10 Year US Treasury) mengindikasikan tinggi-rendahnya risiko investasi dan return di pasar finansial. Obligasi pemerintah bergantung pada kemampuan pemerintah negara terkait untuk mengembalikan utang dan membayar bunganya tepat waktu. Yield obligasi yang berupa bunga biasanya dibuka sedikit lebih tinggi dari suku bunga acuan, kemudian diperdagangkan di pasar sekunder. Kemungkinan akan naiknya suku bunga acuan akan mendorong naiknya yield obligasi di pasar ini. Dalam kondisi saat ini dimana the Fed bersikeras mempertahankan suku bunga rendah dengan alasan perekonomian masih butuh sokongan pemerintah, maka yield cenderung melorot. Ditambah lagi data produksi industri dan manufaktur yang tidak memuaskan, maka permintaan akan obligasi US Treasury merosot dan yield obligasi ikut-ikutan melorot.


Kemerosotan Yield Obligasi AS Melemahkan USD Grafik Yield Obligasi US Treasury 10 Tahun

Semakin bagus prospek ekonomi suatu negara, semakin banyak pula orang akan mencari obligasi negara tersebut, serta meningkatkan permintaan akan mata uang yang dibutuhkan untuk membeli obligasi itu. Jika perekonomian Amerika sungguh pulih, yield treasury naik, banyak orang akan mencari obligasinya. Untuk membeli obligasi US Treasury, maka orang akan butuh Dollar Amerika, sehingga USD menguat. Disini, kenaikan yield obligasi mendorong apresiasi nilai tukar mata uang. Sebaliknya, penurunan yield obligasi US Treasury seperti sekarang,  walau tak secara otomatis mengakibatkan penurunan nilai USD, tetapi mengindikasikan bahwa pasar kurang menyukai aset finansial negara tersebut.

Tak Akan Pulih Sebelum Yield Stabil

Dari kacamata fundamental, yield obligasi US Treasury dan nilai tukar USD cenderung bergerak searah. Marketwatch mengabarkan bahwa USDJPY jatuh Kamis lalu seiring dengan tersungkurnya yield obligasi US Treasury 10 tahun ke kisaran 2,5%, level terendah sejak Oktober 2013. Apa yang akan terjadi jika yield US Treasury bertahan di tingkat rendah seperti sekarang?

Westpac hari ini mengatakan, indeks Dollar nampak menguat, namun itu hanya karena meningkatnya antisipasi pasar akan kebijakan moneter longgar ECB yang akan diumumkan bulan Juni. Analis BK Asset Management, Kathy Lien lebih tegas lagi menuliskan tentang Dollar AS dalam newsletter-nya, "No Recovery Until Yields Stabilize" (tak akan pulih sebelum yield US Treasury stabil).

Namun USD tetap menunjukkan keperkasaannya terhadap sejumlah mata uang; Euro jauh lebih tak berdaya gara-gara pasar mengharapkan pelonggaran kebijakan ECB. Hingga rapat ECB tanggal 5 Juni, analis Westpac teguh pada prospek bearish Euro karena indeks PMI Eropa dan IFO Jerman pun diperkirakannya melemah. Sedangkan analis Danske Bank cenderung optimis akan angka PMI dan IFO, tetapi mereka juga tak berharap tren Euro akan berbalik bullish.

Mengintip sejenak kalender fundamental, sepertinya tak akan ada banyak perubahan drastis dalam tren di pasar forex; dinamika minggu ini besar kemungkinan berlanjut hingga ke pekan depan. Apabila yield US Treasury beranjak naik dan terstabilkan, maka tentunya itu akan sangat membantu greenback. Tetapi selama rilis fundamental AS kedepan tak menunjukkan angka-angka yang konsisten membaik, maka tak ada harapan yield obligasi US Treasury akan pulih.

177698

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Buka melalui
https://bit.ly/seputarforex

Atau akses dengan cara:
PC   |   Smartphone

AWAS
Grup Telegram Palsu Mengatasnamakan SeputarForex!

Baca Selengkapnya Di Sini