iklan

GDP AS Di Atas Harapan, Euro Pun Mencoba Merangkak

Pertumbuhan ekonomi AS di kwartal awal tahun ini terlihat cukup menjanjikan. Paling tidak rentetan terakhir data menunjukkan masih melebihi perhitungan di periode sebelumnya. Namun demikian sejumlah kalangan justru mengkhawatirkan sinyal tersebut. Pada kesempatan lain Euro masih menunggu sentimen yang lebih kuat dan masih fokus pada posisi bertahan dari kejatuhan.

iklan

iklan

Pertumbuhan ekonomi AS di kwartal awal tahun ini terlihat cukup menjanjikan. Paling tidak, rentetan terakhir data menunjukkan masih melebihi perhitungan di periode sebelumnya. Namun demikian sejumlah kalangan justru mengkhawatirkan sinyal tersebut. Pada kesempatan lain Euro masih menunggu sentimen yang lebih kuat dan masih fokus pada posisi bertahan dari kejatuhan.

Made In USA

 

GDP Bertumbuh

Sebelumnya telah tersaji perhitungan GDP AS menyentuh 0.8 persen. Beranjak dari hasil tersebut, para pengamat berani mempertaruhkan harapannya pada level 1.0 persen bakal tersentuh. Kemungkinan adanya dorongan dan sumbangsih kekuatan sektor properti masih menjadi dasar pertimbangan naiknya hitungan tersebut. Dengan naiknya harga tempat tinggal di dukung stabilnya serapan pasar tenaga kerja membuat sektor properti, tidak dapat disangkal masih menjadi formula mujarab bagi pertumbuhan ekonomi ke depan. Namun, pada akhirnya pertumbuhan justru terekam melebihi perkiraan yaitu menjadi 1.1 persen.

Bagi sebagian pihak yang optimis, hasil ini tentu menjadi kabar baik mengingat perjuangan yang luar biasa dari keseluruhan sektor usaha akhirnya tak sia-sia. Tren yang selalu terjadi di awal tahun selama beberapa periode kebelakang memang selalu lebih buruk dari hasil di kwartal-kwartal pertengahan tahun hingga akhir. Tahun ini masih dengan tren yang sama, tetapi tampil jauh lebih baik jika dibandingkan dengan tren di tahun sebelumnya.

Namun ada juga pihak yang pesimis dengan pencapaian pertumbuhan ekonomi AS ini. Bagi mereka yang kontra, hasil ini hanya cantik di permukaan saja. Secara riil, banyak sektor masih menderita dari segi pendapatan. Para pengusaha ekspor sudah sekian lama dirugikan dengan alasan klasik, yaitu penguatan mata uang dolar AS serta ditambah masih lesunya pasar global. Kenyataan ini diperkuat oleh makin lebarnya neraca perdagangan di periode terakhir kemarin.

Belum lagi pabrik-pabrik yang memproduksi barang-barang kebutuhan rumah tangga yang dikabarkan masih belum berani melakukan akselerasi dikarenakan persediaan masih menggunung di gudang. Lini ini sangat penting sebagai penunjang level GDP AS mengingat konsumsi barang-barang kebutuhan rumah tangga ini meliputi dua per tiga kegiatan sektor riilnya.

 

Euro Masih Menggantung

Efek Brexit di awal minggu ini jelas tak bisa dilepaskan dari mata uang Euro. Inggris yang selama ini masih menjadi penyokong kekuatan Euro akhirnya memutuskan diri keluar dari komunitas negara-negara Benua Biru. Euro yang di akhir minggu lalu masih bertengger di area 1.1380 an, terjun bebas hingga tembus di bawah area cantik 1.1000. Nampaknya nilai tersebut masih dijaga oleh para investor Euro.

Mereka tidak dengan mudahnya membiarkan Euro kembali makin terjerembab. Ada kemungkinan level ini bakal dijadikan pijakan kuat untuk kembali meroket. Terbukti hari ini, Euro memang benar kembali diangkat dari level 1.1025 an hingga tembus kembali pagu 1.1100 an. Setelah sinyal GDP AS digelontorkan, Euro masih berjaga  di kisaran 1.1050 an.

267663

Kukuh Raharjo aktif sebagai penulis berita dan artikel di Seputarforex.com sejak tahun 2014 serta aktif juga sebagai freelance di dunia social media promotion. Sambil masih bertrading forex online, Kukuh Raharjo juga menggeluti dunia blogging dengan posisinya sebagai pengisi konten lepas.


19 Apr 2021

1 Apr 2021

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone