Advertisement

iklan

GDP Australia Kuartal III/2019 Melempem, AUD/USD Tertekan

Perekonomian Australia kuartal ketiga tumbuh lebih lambat dari ekspektasi karena terbebani oleh memburuknya trend belanja konsumen.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Pada hari Rabu (04/Desember), Biro Statistik Australia mempublikasikan data GDP yang hanya tumbuh 0.4 persen dalam basis kuartalan selama periode Juli-September 2019. Rilis data GDP ini lebih rendah ketimbang forecast ekonom sebelumnya, yang memprediksi ekonomi Australia kuartal III akan tumbuh 0.5 persen. Selain lebih rendah dari ekspektasi ekonom, pertumbuhan GDP kali ini juga menurun jika dibandingkan dengan GDP kuartal sebelumnya yang 0.6 persen.

GDP Australia Kuartal III/2019

Kendati secara kuartalan perekonomian Australia tercatat melambat, tapi  GDP selama kuartal ketiga naik 1.7 persen bila dihitung secara tahunan (Year-over-Year). Angka yang sesuai dengan konsensus pasar tersebut melaju cukup signifikan dari rekor terendah sedekade 1.4 persen pada kuartal kedua lalu.

Kepala ekonom ABS (Australian Bureau of Statistics) Bruce Hockman mengatakan, "Perekonomian tetap tumbuh namun laju pertumbuhan tetap berada di bawah rata-rata jangka panjang."

Lemahnya data GDP Australia sepanjang kuartal III/2019 disebabkan oleh "masalah klasik", yakni sektor belanja konsumen yang lesu di tengah membengkaknya hutang rumah tangga. Di samping itu, kenaikan tingkat pengangguran ikut berkontribusi atas lemahnya trend pengeluaran konsumen Australia di sepanjang kuartal ketiga tahun ini.

 

AUD/USD Turun, Gejolak Dagang Ikut Membebani

Rilis data GDP Australia kuartal III/2019 yang berada di bawah ekspektasi tak pelak menekan pergerakan AUD versus Dolar AS pada pagi ini. Saat berita ditulis, pair AUD/USD diperdagangkan pada kisaran 0.6834, merosot cukup dalam dari harga Open harian.

GDP Australia Kuartal III/2019 Di bawah

Dari faktor eksternal, Dolar Australia juga ditekan oleh semakin surutnya minat risiko di kalangan pelaku pasar, menyusul pernyataan Trump yang mengatakan bahwa perjanjian dagang AS-China ada baiknya diselesaikan setelah pemilu 2020 mendatang. Hal ini pun semakin menjauhkan prospek dibatalkannya tarif impor China yang akan diberlakukan pada 15 Desember mendatang.

291172

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.