Advertisement

iklan

Google (NASDAQ:GOOGL) DeepMind telah menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi struktur lebih dari 2 juta material baru, sebuah terobosan yang menurut Google akan segera digunakan untuk meningkatkan teknologi di dunia nyata, 53 menit lalu, #Saham AS   |   Sony (NYSE:SONY) Pictures Entertainment (SPE) telah menjalin kemitraan strategis dengan Guardian Media Group, yang memberikan hak eksklusif kepada SPE untuk mengadaptasi jurnalisme Guardian bagi proyek-proyek audiovisual, 54 menit lalu, #Saham AS   |   Apple Inc (NASDAQ:AAPL) memperpanjang kontraknya dengan Qualcomm (NASDAQ:QCOM) Inc. untuk komponen teknologi utama hingga tahun 2026, 55 menit lalu, #Saham AS   |   AT&T Inc. mengalami kenaikan harga saham yang tidak terlalu besar kemarin, naik 0.74% menjadi $16.30, 56 menit lalu, #Saham AS
Selengkapnya

GDP Australia Selip, AUD/USD Terkerek Laporan Dari China

Penulis

Laporan ekonomi Australia belakangan ini cenderung beragam, sehingga data ekonomi dalam negeri tak mampu menjadi katalis positif yang signifikan bagi AUD/USD.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex - AUD/USD terkekang pada rentang terendah dua bulan di bawah ambang 0.6800 sejak awal pekan ini. Perilisan data Gross Domestic Product (GDP) Australia yang mengecewakan tadi pagi kian memperburuk sentimen atas Aussie. Akan tetapi, laporan terbaru dari China menggairahkannya sedikit. Dolar Australia terpantau mengalami kenaikan sekitar 0.5% sampai kisaran 0.6765 terhadap dolar AS pada akhir sesi Asia hari Rabu (1/Maret).

AUDUSD DailyGrafik AUD/USD Daily via TradingView

Laporan GDP Australia menunjukkan pertumbuhan 0.5% (Quarter-over-Quarter) pada kuartal keempat tahun 2022. Angka tersebut meleset cukup jauh dari estimasi konsensus yang sebesar 0.8%, sekaligus menandakan perlambatan dibandingkan pertumbuhan 0.7% pada periode sebelumnya.

Pertumbuhan GDP tahunan sampai akhir Desember mencapai 2.7% saja, sesuai dengan ekspektasi konsensus. Padahal, laporan sebelumnya mencatat kenaikan 5.9% (Year-over-Year).

Laporan kali ini memantik pesimisme menjelang rapat kebijakan Bank Sentral Australia (RBA) pada tanggal 7 Maret 2023 mendatang. Konsensus memperkirakan RBA akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin lagi dalam kesempatan itu, tetapi prospek kenaikan lanjutan kian tak menentu.

RBA telah menaikkan suku bunga sebanyak sepuluh kali sejak Mei tahun lalu demi mengejar target inflasi dalam rentang 2-3%, sehingga berdampak pada perlambatan ekonomi. Tingkat suku bunga acuan RBA saat ini sudah mencapai 3.35%. Sayangnya, tingkat inflasi Australia masih kekeh bertahan pada laju 7.8% (Year-over-Year).

RBA tak punya pilihan selain menaikkan suku bunga lebih lanjut dalam situasi ini. Namun, mereka kemungkinan akan segera terpaksa berhenti melakukannya apabila makin banyak indikator ekonomi yang rontok dalam laporan-laporan berikutnya.

Laporan ekonomi Australia belakangan ini cenderung beragam. Tingkat pengangguran dan penjualan ritel sama-sama mengungguli ekspektasi pada bulan Januari. Konsekuensinya, data ekonomi dalam negeri tak mampu menjadi katalis positif yang signifikan bagi Aussie.

"AUD (hanya) sedikit terdampak oleh data ekonomi Australia," kata Carol Kong, ekonom dan pakar mata uang di Commonwealth Bank of Australia, seusai rilis data penjualan ritel Australia kemarin, "Kami memperkirakan suku bunga yang lebih tinggi akan mengakibatkan perlambatan materiil dalam pertumbuhan belanja rumah tangga tahun ini dan akan mendorong RBA untuk segera mengakhiri siklus pengetatannya."

Kurs dolar Australia hari ini baru menunjukkan tajinya seusai perilisan data PMI Manufaktur China yang cukup fantastis. Pemulihan ekonomi China lebih lanjut dapat memperbaiki sentimen pasar dan menyokong Aussie.

National People's Congress yang dimulai pada hari Minggu akan menjadi fokus pasar berikutnya. Pertemuan akbar ini merupakan otoritas tertinggi dalam pemerintahan China dan sering melahirkan panduan kebijakan yang berdampak luas.

Download Seputarforex App

299061
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.