Advertisement

iklan

Harga Emas Merosot Pasca Pelonggaran Moneter China

Langkah China melonggarkan moneter untuk mengatasi dampak virus Corona dan menguatnya Dolar AS menjadi alasan bagi para investor untuk menjual emas.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga emas anjlok di sesi perdagangan Senin (03/Februari) malam ini. Penurunannya bahkan mencapai 1 persen dari level tinggi yang tercapai di sesi sebelumnya. Harga emas spot terpantau turun lebih dari 1 persen ke harga $1,577.11 per ons saat berita ini ditulis. Sedangkan harga emas futures di Comex New York turun 0.4 persen ke $1,581.70.

Dalam grafik XAU/USD berikut ini, penurunan harga emas dalam time frame Daily mencapai 0.87 persen dan diperdagangkan di 1,576.05.

xauusd

Di luar ekspektasi, bank sentral China menurunkan suku bunga Reverse Repurchase Agreements (Repo), serta menyuntikkan dana 1.2 triliun yuan ke pasar untuk meningkatkan likuiditas. Hal ini dilakukan karena otoritas China merasa perlu  meredakan tekanan ekonomi dalam negeri semenjak virus Corona mewabah.

"Ketidakpastian, pada umumnya akan mendukung harga emas, tetapi kita juga telah mengetahui bahwa China sedang mengambil langkah untuk menyangga perekonomiannya. Hal ini adalah sesuatu yang dipandang positif oleh pasar," kata analis Julius Baer, Carsten Menke.

Analis tersebut menambahkan bahwa rebound yang terjadi pada Dolar AS turut menambah tekanan bagi bearish emas. Mata uang yang disebut dengan Greenback tersebut unggul 0.3 persen terhadap rival-rival mayornya, meskipun sempat menyentuh level rendah dua pekan di sesi perdagangan sebelumnya.

Meskipun demikian, analis fundamental dari AxiCorp memandang jika emas masih memiliki dukungan jangka panjang dari arah kebijakan bank sentral.

"Begitu kita melewati 'band-aid effect' seperti saat ini, maka kita akan menghadapi realitas bahwa ada sebuah gejolak ekonomi yang akan terjadi di China, yang mana akan menyebar secara global dan memaksa sejumlah bank sentral untuk memotong suku bunga," kata analis fundamental Stephen Innes dari AxiCorp.

Pagi tadi, aktivitas manufaktur China dilaporkan melambat ke level terendah dalam lima bulan terakhir. Selain karena imbas virus Corona, kemerosotan aktivitas pabrik di awal tahun 2020 mencerminkan bahwa perekonomian China gagal mendapatkan momentum pertumbuhan meski kesepakatan dagang parsial dengan AS telah tercapai. Bank multinasional Goldman Sachs memprediksi bahwa pertumbuhan GDP China tahun 2020 akan turun dari 5.9 persen menjadi 5.5 persen.

291868

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.