Advertisement

iklan

Harga Minyak Ambruk Gegara Timur Tengah Pecah Kongsi

Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain memutus hubungan diplomatik dengan Qatar karena negeri itu dituduh mendukung Iran dan Muslim Brotherhood

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak anjlok makin dalam pada perdagangan Selasa pagi ini (6/6) dengan Brent maupun WTI diperdagangkan jauh di bawah harga $50 per barel. Perpecahan di kalangan negara-negara Timur Tengah dengan pemutusan hubungan diplomasi antara Qatar dengan empat negara lainnya, dinilai dapat menghambat upaya pemangkasan output yang tengah digiatkan OPEC.

Timur Tengah

 

Dituduh Dukung Terorisme

Pada hari Senin siang, merebak kabar bahwa Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Mesir, dan Bahrain memutus hubungan diplomatik dengan Qatar dengan tuduhan mendukung Iran dan Muslim Brotherhood, negara dan organisasi lintas batas yang dianggap biang terorisme oleh keempat negara tersebut. Beberapa jam kemudian, angkatan bersenjata Qatar juga digusur dari barisan koalisi pimpinan Saudi yang tengah berada di Yaman.

Sejumlah langkah strategis dilakukan dalam rangka pemutusan hubungan diplomatik, termasuk pengusiran diplomat dan warga Qatar dari kawasan negara-negara terkait dan pemutusan penerbangan antar wilayah. Bahkan, pelabuhan di Fujairah, Uni Emirat Arab, yang biasa digunakan oleh kapal-kapal tanker minyak dan LNG Qatar pun diblokir.

Akibatnya, meski harga minyak sempat naik tipis pada sesi perdagangan Senin pagi setelah kabar kenaikan harga jual minyak Saudi untuk kawasan Asia, tetapi kemudian langsung anjlok lagi. Saat berita ini ditulis, Brent dihargai di kisaran $49.28 per barel, sedangkan WTI di sekitar $47.19 per barel. Keduanya nyaris delapan persen lebih rendah dibanding posisinya pasca pengumuman perpanjangan pemangkasan output pada akhir bulan Mei lalu.

 

Bisa Jadi Alasan Untuk Langgar Kuota

Dengan kapasitas produksi sekitar 600,000 barel per hari (bph), Qatar merupakan salah satu negara dengan produksi terkecil dalam OPEC. Akan tetapi, ketegangan dalam kartel raksasa ini membuat pelaku pasar khawatir.

"Sebuah risiko potensial untuk dipantau adalah kemungkinan Qatar akan memandang (pemutusan hubungan diplomatik) ini sebagai kurangnya insentif untuk mentaati kuota produksi yang telah disetujui," ujar Jameel Ahmad dari Broker FXTM, sebagaimana dikutip oleh Reuters. Lebih dari itu, aksi empat negara tersebut bisa digunakan pula oleh negara-negara lainnya sebagai alasan untuk berhenti mengerem produksi. Apabila itu terjadi, maka limpahan surplus minyak global bisa gagal disusutkan.

279194

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.