Advertisement

iklan

Harga Minyak Brent Capai USD75, Tertinggi Sejak November 2014

Harga minyak terus meningkat, sementara keresahan terkait kemungkinan diterapkannya kembali sanksi ekonomi atas Iran oleh AS masih menyelimuti pasar.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak memantapkan posisinya di level tertinggi sejak November 2014; sementara keresahan terkait kemungkinan diterapkannya kembali sanksi ekonomi atas Iran oleh AS masih menyelimuti pasar. Harga minyak mentah tipe Brent mencapai high USD75.05 pada hari Jumat lalu, meskipun pada awal sesi Asia hari Senin ini (7/Mei) melandai ke USD74.84. Sedangkan West Texas Intermediate (WTI) yang telah mencapai USD69.94 pada hari Jumat, kini mengendur ke USD69.73.

 

Harga Minyak Brent

 

 

Sanksi Ekonomi Atas Iran 

Iran mengambil alih kembali posisinya sebagai salah satu eksportir minyak terbesar dunia, setelah sanksi ekonomi atasnya dicabut mulai tahun 2016 berdasarkan perjanjian yang ditandatangani pada tahun sebelumnya. Perjanjian tahun 2015 antara Iran dengan AS, China, Prancis, Jerman, dan Rusia merangkum kesediaan Iran untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir dan mengijinkan inspeksi dari lembaga internasional atas fasilitas nukir yang dimilikinya, sedangkan AS dan negara-negara lainnya sepakat mencabut sanksi ekonomi. 

Dari pihak AS, Presiden harus melakukan verifikasi pada parlemen bahwa Iran telah melaksanakan semua persyaratan dalam kesepakatan tersebut secara periodik. Apabila Teheran dianggap menyimpang, maka AS bisa menarik diri dari perjanjian dan menerapkan sanksi ekonomi atas Iran kembali.

Sejauh ini, negara-negara lain yang terlibat dalam perjanjian cukup puas dengan sikap Iran. Namun, Presiden Donald Trump telah berulangkali menyampaikan ketidakpuasannya pada perjanjian yang ditandatangani pendahulunya, Presiden Barack Obama, tersebut. 

Pekan ini, semua mata akan tertuju pada tanggal 12 Mei. Apabila pada hari itu Trump tak memberikan verifikasi bahwa Iran mentaati perjanjian, maka ekspor minyak Iran kemungkinan bakal menyusut. Menurut sebuah studi yang dirilis minggu lalu, ada 60 persen kemungkinan Trump akan menarik AS dari perjanjian tersebut. 

"Harga minyak naik lebih tinggi karena kekhawatiran mengenai dampak (kemungkinan) AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran terus menerus menggerakkan sentimen investor," ungkap ANZ Bank pada Reuters.

Senada dengan itu, Greg McKenna dari broke AxiTrader mengatakan, "Tajuk utama minggu ini adalah mengenai minyak dan kesepakatan nuklir Iran. Kita tahu Presiden Trump tak menyukainya. Secara umum, pertaruhannya adalah -berdasarkan pergerakan harga minyak- Presiden Trump benar-benar menarik diri dari kesepakatan."

 

 

Waspadai Kenaikan Produksi Minyak AS

Di sisi lain, sejumlah pelaku pasar mulai berhati-hati menghadapi kenaikan harga minyak. Dalam laporan Commodity Futures Trading Commission (CFTC) terbaru, perusahaan-perusahaan Hedge Funds diketahui memangkas posisi long mereka pada kontrak minyak mentah futures dan options sebanyak 11,825, sehingga tersisa total 444,060 kontrak.

 

Data Baker Hughes Per 4 Mei 2018

Salah satu faktor yang membebani kenaikan harga minyak saat ini adalah laju produksi minyak Amerika Serikat yang telah melesat hingga 10.62 juta barel per hari. Baker Hughes melaporkan bahwa perusahaan-perusahaan migas AS menambahkan 9 oil drilling rigs dalam periode sepekan yang berakhir tanggal 4 Mei. Dengan demikian, jumlah rigs mencapai level tertinggi sejak Maret 2015 (lihat grafik), dan AS semakin mendekati rekor Rusia sebagai produsen minyak mentah terbesar dunia yang kini menghasilkan 11 juta bph.

283548

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.