Advertisement

iklan

Harga Minyak Brent Konsolidasi Dekat USD70 Per Barel

Posisi harga minyak setinggi ini terakhir kali dinikmati Brent pada akhir tahun 2014, sebelum terpuruk hingga kisaran USD33 per barel pada awal tahun 2016.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga Minyak Brent (Brent Crude Oil) diperdagangkan menurun 0.53% ke 69.84 pada awal perdagangan sesi Eropa hari Selasa ini (16/Januari), setelah sempat tembus level $70 per barel pada hari Senin kemarin. Posisi harga setinggi ini terakhir kali dinikmati Brent pada akhir tahun 2014, sebelum terus terpuruk hingga kisaran $33 per barel pada awal tahun 2016.

West Texas Intermediate (WTI Crude Oil) juga mengalami penurunan hari ini sebesar 0.66% ke 64.36; setelah pada hari Senin sempat mencapai $64.86, level tertingginya sejak akhir 2014.

Harga Minyak Brent Konsolidasi Dekat USD70 Per Barel

 

Fundamental Kokoh Dan Didukung OPEC

Kenaikan kedua harga Minyak acuan global tersebut telah didukung oleh kesepakatan pembatasan output yang digawangi OPEC dan Rusia, serta tingginya permintaan global karena pemulihan pertumbuhan di awal tahun 2018. Kesepakatan pembatasan output dijadwalkan akan berlangsung hingga akhir tahun ini, sedangkan permintaan minyak global telah meningkat nyaris 15 persen sejak awal Desember 2017.

"Reli ini pertama-tama digerakkan oleh fundamental yang kokoh, dengan pertumbuhan permintaan yang kuat, dan akselerasi pemenuhan kesepakatan oleh OPEC yang tinggi," ungkap analis di bank investasi Goldman Sachs dalam sebuah catatan yang dikutip oleh Reuters pagi ini. Goldman Sachs menambahkan, "Kami melihat kemungkinan kenaikan forecast kami (dari saat ini rata-rata) Brent $62 per barel dan WTI $57.5 per barel dalam beberapa bulan mendatang."

 

Produksi AS Dihambat Musim Dingin

Bank-bank investasi top Amerika Serikat lainnya, seperti Bank of America Merrill Lynch (BofA Merrill Lynch) dan Morgan Stanley, telah mendongkrak forecast harga minyak mereka untuk tahun 2018. Morgan Stanley memperkirakan Brent akan naik ke sekitar $75 per barel di kuartal tiga tahun ini. Sedangkan menurut BofA Merrill Lynch:

"Kami telah meng-update keseimbangan supply/demand untuk merefleksikan pengetatan yang lebih cepat dibanding ekspektasi di pasar minyak global, karena perbaikan kondisi siklus, dinginnya cuaca winter, dan tingginya ketaatan OPEC (pada kesepakatan pemangkasan output) lebih dari ekspektasi". Oleh karena itu, "Sekarang kami memperkirakan defisit sebesar 430,000 barel per hari (bph) pada tahun 2018 dibanding 100,000 bph di (perkiraan) sebelumnya, dan karenanya, harga Minyak Mentah Brent rata-rata $64 per barel di tahun 2018, (naik dari perkiraan) sebelumnya $56. Proyeksi WTI kami juga naik dari $52 per barel ke $60 per barel untuk alasan yang sama."


Pada tahun 2017, kenaikan harga Minyak terhambat meskipun OPEC sudah menjalankan pemangkasan output, karena produksi minyak AS meroket. Namun, pada awal tahun 2018 ini sejumlah fasilitas produksi minyak di Amerika Utara tengah ditutup sehubungan dengan musim dingin. Akibatnya, produksi minyak AS kemungkinan gagal mencapai proyeksi 10 juta bph dalam bulan ini, walaupun kemungkinan ambang tersebut bakal ditembus dalam tahun 2018. Alih-alih, produksi minyak negeri Paman Sam untuk periode Januari malah bisa jadi jatuh dari 9.8 juta bph pada bulan Desember ke 9.5 juta bph.

281963

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.