OctaFx

iklan

Harga Minyak Capai USD55 Didorong Proyeksi Kenaikan Demand

Harga minyak WTI naik 2.2 persen dan ditutup pada USD49.30 per barel, sementara Brent meningkat 1.6 persen ke USD55.15 per barel.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak meningkat cukup signifikan sepanjang perdagangan hari Rabu lalu, walau agak mengendur pagi ini (14/September). Rilis proyeksi dari International Energy Agency (IEA) kemarin menyebutkan bahwa permintaan (demand) minyak global tahun ini akan mengalami peningkatan tertinggi sejak tahun 2015, sehingga mendongkrak harga. Namun, laporan stok minyak mentah Amerika Serikat yang mengecewakan tadi malam, sedikit memupus optimisme pasar.

SPBU

 

Tertinggi Dalam Dua Tahun

Sebuah laporan dari lembaga EIA yang berpusat di Paris, kemarin siang menunjukkan bahwa proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk tahun 2017 direvisi naik. Demand dalam tahun 2017 diproyeksikan bertambah 100,000 barel per hari (bph) ke angka total 1.6 juta bph, atau meningkat 1.7%. Outlook paling bullish dalam dua tahun terakhir tersebut mendongkrak optimisme pasar pada komoditas energi ini.

"Pertumbuhan permintaan terus menguat, lebih dari ekspektasi, terutama di Eropa dan AS," demikian bunyi laporan badan yang berafiliasi dengan Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) tersebut.

Di New York Mercantile Exchange (NYMEX), harga minyak berjangka WTI naik 2.2% dan ditutup pada USD49.30 per barel, sementara Brent di Intercontinental Exchange London meningkat 1.6% ke USD55.15 per barel. Namun saat berita ini ditulis, WTI berada di kisaran USD49.22 dan Brent pada USD55.03 per barel, sehubungan dengan buruknya laporan stok minyak mentah AS.

 

Masih Dampak Harvey

Laporan dari US Energy Information Administration (EIA) mengenai stok minyak mentah AS menampilkan kenaikan melebihi perkiraan. Dalam periode sepekan yang berakhir tanggal 8 September, stok meningkat sebanyak sekitar 5.9 juta barel, jauh di atas ekspektasi 3.2 juta barel yang diantisipasi pasar. Di sisi lain, stok Gasoline menurun 8.4 juta barel, jauh lebih dalam dari perkiraan awal yang hanya 2 juta barel.

Laporan EIA tersebut mencerminkan distorsi pasar pasca Badai Harvey. Kapasitas pengilangan di negeri Paman Sam belum pulih sepenuhnya, sehinga menekan permintaan minyak mentah jangka pendek, berdampak pada tingginya stok di tangki-tangki penyimpanan. Sedangkan permintaan akan bahan bakar minyak (bukan minyak mentah) tak mengalami penurunan; mendorong penyusutan temporer di inventori Gasoline dan BBM lainnya.

280249

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.