Advertisement

iklan

Harga Minyak Di Ambang Kenaikan Tahunan Tertinggi Sejak 2009

Penulis

+ -

Masa-masa kelam di sektor migas nampaknya telah berakhir.

iklan

iklan

Seputarforex.com - Masa-masa kelam di sektor migas nampaknya telah berakhir. Hari ini (30/12), harga minyak terpantau bergerak menuju persentase kenaikan tertingginya sejak tahun 2009, didukung oleh kesepakatan sebagian besar negara-negara produsen untuk memangkas output secara berjamaah.

Harga Minyak Di Ambang Kenaikan Tahunan Tertinggi

 

WTI Sudah Reli 46%, Brent 53%

Harga acuan minyak AS, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI), siang ini naik ke $54.00. Sementara harga minyak berjangka Brent meluncur ke $57.16. WTI telah melonjak sekitar 46% sepanjang tahun ini, sedangkan Brent naik sebanyak 53% dalam periode yang sama. Persentase kenaikan tersebut merupakan yang terbesar sejak reli tahun 2009 ketika WTI dan Brent masing-masing naik 71% dan 78%.

Sejumlah sinyal bahwa para produsen minyak akan mentaati kuota yang dialokasikan, mulai bermunculan. Oman mengirim notifikasi kepada beberapa pelanggannya bahwa mereka akan mengurangi alokasi sebanyak 5% di bulan Maret, meski belum menyatakan apakan pengurangan pasokan akan berlanjut setelahnya.

Selain itu, Menteri Perminyakan Kuwait Essam Al-Marzouq mengatakan bahwa sebuah komite yang terdiri dari perwakilan negara OPEC dan Non-OPEC dijadwalkan berjumpa di Wina, Austria, pada 21-22 Januari 2017 untuk mendiskusikan pelaksanaan kesepakatan tersebut.

 

Harga Minyak Menuju $60 Di Akhir 2017

Dalam reli harga minyak kali ini, pelaku pasar mengabaikan laporan peningkatan inventori minyak mentah Amerika Serikat. Data US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan bahwa inventori meningkat sebanyak 614,000 barel dalam periode sepekan yang berakhir tanggal 23 Desember. Laporan aktual tersebut berlawanan dengan ekspektasi analis yang mengharapkan penurunan sebanyak 2.1 juta barel.

Menurut pakar dari bank terkemuka Barclays, "Laporan Departemen Energi hari ini adalah positif bagi produk minyak karena penurunan dalam inventori gasolin dan hasil distilasi dibandingkan ekspektasi kenaikan oleh konsensus (analis)."

Persediaan Gasolin menurun 1.6 juta barel, berkebalikan dengan ekspektasi kenaikan 1.3 juta barel yang diestimasikan oleh analis. Pelaku pasar agaknya memilih untuk berfokus pada penurunan tak terduga dalam persediaan produk olahan tersebut dan mengambil sikap lebih bullish.

Survei Reuters yang dipublikasikan hari Kamis lalu menunjukkan bahwa para pakar mengharapkan harga minyak naik bertahap ke arah $60 per barel di akhir 2017. Kenaikan lebih lanjut di atas level itu akan dibatasi oleh proyeksi kekuatan Dolar, digenjotnya output minyak AS, serta kemungkinan mangkirnya beberapa negara OPEC dari kuota yang ditetapkan dalam kesepakatan pemangkasan produksi.

276924
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.