Advertisement

iklan

Harga Minyak Dibebani Penurunan Permintaan Dari Asia

Harga minyak mentah acuan melandai sekitar 0.3 persen; Brent turun ke $47.18 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) ke kisaran $44.57 per barel.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak tenggelam semakin dalam pada perdagangan sesi Asia hari Senin ini (19/6). Pasar merisaukan kabar kenaikan jumlah oil drilling rigs di Amerika Serikat, sementara permintaan (demand) dari tiga negara importir terbesar di Asia justru menurun. Saat ini, minyak diperdagangkan pada kisaran level yang sama dengan sebelum pemangkasan output OPEC diumumkan untuk pertama kalinya tahun lalu.

Permintaan Minyak Asia

 

Laju Produksi AS Meninggi Lagi Tahun Ini

Saat berita ditulis, harga minyak mentah acuan melandai sekitar 0.3%; Brent turun ke $47.18 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) ke kisaran $44.57 per barel. Trader yang diwawancarai Reuters menyatakan, faktor utama yang mendorong harga merosot adalah peningkatan produksi AS yang terus berlanjut secara bertahap, sehingga menumpulkan upaya OPEC untuk memangkas surplus global.

Akhir pekan lalu, Baker Hughes melaporkan kenaikan jumlah sumur pengeboran (oil rig count) di AS dari 741 ke 747. Menurut Goldman Sachs, jika rig count terus berada pada jumlahnya sekarang, produksi minyak AS akan meningkat sebanyak 770,000 barel per hari (bph) di ladang-ladang minyak Permian, Eagle Ford, Bakken, dan Niobrara dalam kurun waktu antara kuartal empat tahun lalu hingga kuartal empat tahun ini.

 

Impor Minyak Jepang Anjlok

Di sisi lain, pertumbuhan permintaan di tiga importir minyak terbesar di Asia; Tiongkok, India, dan Jepang, justru terhambat. Kementrian Keuangan Jepang pagi ini melaporkan impor minyak mentah anjlok 13.5% YoY pada bulan Mei ke level 2.83 juta bph. Permintaan minyak India di bulan yang sama jatuh 4.2%. Demikian pula permintaan minyak dari China telah menurun selama beberapa waktu terakhir dan diperkirakan akan terus merosot dari level tinggi yang telah menempatkannya menjadi negara importir minyak terbesar kedua dunia setelah AS.

Laporan-laporan tersebut menggarisbawahi buruknya outlook komoditas minyak, setelah minggu lalu lembaga International Energy Agency (IEA) memproyeksikan surplus global bakal diperparah oleh dikebutnya laju produksi negara-negara non-OPEC tahun 2017 ini. 

279351

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.