Harga Minyak Jatuh Pasca Serangan Barat Ke Suriah

Selain merisaukan dampak serangan misil Barat ke Suriah pada harga minyak, pelaku pasar mengkhawatirkan kenaikan laju produksi minyak AS yang kian meninggi.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak jatuh pada awal perdagangan hari Senin ini (16/April), setelah Amerika Serikat dan sekutunya melancarkan serangan misil ke Suriah pada akhir pekan. Pasalnya, selain memperhatikan dampak konflik di kawasan Timur Tengah, pelaku pasar juga mengkhawatirkan kenaikan laju produksi minyak AS yang kian meninggi.

 

Serangan Misil Barat Ke Suriah

 

Saat berita ditulis, harga minyak mentah tipe Brent telah merosot lebih dari 1 persen ke USD71.80, sedangkan West Texas Intermediate melorot 0.9% ke USD66.76 per barel. Padahal, pada perdagangan hari Jumat, Brent ditutup pada USD72.54 dan WTI pada USD67.36.

 

AS vs Timur Tengah

Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris telah meluncurkan 105 misil pada hari Sabtu lalu, dengan sasaran lokasi-lokasi yang disinyalir sebagai pabrik senjata kimia di Suriah, sebagai "balasan" atas serangan gas beracun di Douma tanggal 7 April yang mengakibatkan sedikitnya 70 korban sipil tewas. Presiden Trump menyampaikan pada Parlemen AS tadi pagi bahwa serangan lanjutan bisa dilakukan bila Pemerintah Suriah melancarkan serangan gas beracun lagi

"Investor terus khawatir mengenai dampak konflik yang lebih luas di Timur Tengah," kata ANZ Bank. Meskipun Suriah bukan termasuk negara produsen minyak utama, tetapi Timur Tengah merupakan pusat ekspor minyak dunia, sehingga ketegangan di kawasan ini cenderung meningkatkan kewaspadaan pelaku pasar.

Namun demikian, pelaku pasar yang diwawancarai Reuters menyatakan bahwa ada faktor lain di samping ketidakpastian dampak serangan Barat ke Suriah tersebut. Pasar juga mendapatkan tekanan akibat pesatnya aktivitas pengeboran minyak di AS.

Menurut laporan Baker Hughes, jumlah oil drilling rigs meningkat 7 buah ke angka total 815 dalam periode sepekan yang berakhir tanggal 13 April. Angka total 815 merupakan yang tertinggi sejak Maret 2015. Padahal, data tersebut merupakan proxy indicator bagi laju produksi di negara produsen minyak terbesar kedua dunia ini. Kenaikan rig count dalam jangka panjang dapat membebani harga minyak, meskipun OPEC menerapkan kesepakatan kuota yang cukup ketat dan konflik di Timur Tengah terus berkobar.

283245

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.