Advertisement

iklan

Harga Minyak Melandai Gegara Data Dari Amerika

Data pemerintah AS yang dilaporkan pada hari Senin menunjukkan bahwa produksi minyak Shale akan mencatat rekor kenaikan tertinggi dalam lebih dari dua tahun.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak cenderung melandai pada perdagangan Senin malam dan Selasa pagi ini (18/4) setelah pasar mengakhiri liburan Paskah. Laporan resmi dari pemerintah Amerika Serikat mengindikasikan peningkatan produksi, sehingga menggagalkan reli harga minyak meski pekan lalu Brent telah berhasil tembus ambang $56 per barel.

Harga Minyak Melandai Nantikan Data Dari Amerika

 

Melorot Pasca Paskah

Harga minyak mentah berjangka Brent terpantau melorot 53 sen pada hari Senin dan menurun lagi 4 sen pagi ini menuju angka $55.32 per barel, setelah sebelumnya menanjak naik dalam tiga sesi berturut-turut akibat meningkatnya ketegangan geopolitik dunia.

Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) mengakhiri hari Senin dengan penurunan 53 sen, lalu merosot lagi 5 sen hingga mangkrak di angka $52.60 saat berita ditulis. Sebelum Paskah, WTI juga sempat meninggi.

 

Produsen Minyak AS Semangat "Ngebor"

Data pemerintah AS yang dilaporkan pada hari Senin menunjukkan bahwa produksi minyak Shale di bulan Mei kemungkinan akan mencatat rekor kenaikan tertinggi dalam lebih dari dua tahun. Pasalnya, dengan harga minyak bertahan di atas $50 per barel, maka para produsen minyak AS bersemangat menggenjot aktivitas pengeboran.

Tepatnya, menurut US Energy Information Agency (US EIA), output AS untuk bulan Mei diekspektasikan naik sebanyak 123,000 barel per hari (bph) ke angka kumulatif 5.19 juta bph. Jika benar demikian, maka Mei 2017 menghadirkan kenaikan produksi bulanan terbesar di negeri Paman Sam sejak Februari 2015, sekaligus mencatat rekor level produksi bulanan tertinggi sejak November 2015.

Lebih lanjut, analisa Reuters menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan finansial menginvestasikan milyaran Dolar untuk produksi minyak, sehingga output ke depan bisa terus meninggi. Di sisi lain, kenaikan produksi di Amerika Serikat yang merupakan negara penghasil minyak terbesar ketiga Dunia, kemungkinan akan menekan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dalam mendiskusikan perpanjangan kesepakatan pemangkasan output.

Negara-negara OPEC dijadwalkan akan berjumpa pada 25 Mei untuk menimbang perpanjangan kesepakatan yang sedianya akan kadaluwarsa pada Juni 2017 itu. Namun, sejumlah petinggi negara-negara anggotanya, termasuk Arab Saudi, telah menyiratkan bahwa kini masih terlalu dini untuk membicarakan perpanjangan.

278541

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.