OctaFx

iklan

Harga Minyak Melandai, Tapi Fundamental Pasar Masih Bagus

Dengan mempertimbangkan berbagai faktor, sebuah survey menyimpulkan ekspektasi harga minyak tahun 2018 berkisar antara USD60-70 per barel.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga Minyak melandai di sesi perdagangan Asia hari Jumat ini (12/Januari), setelah mencapai level tertingginya sejak bulan Desember 2014 pada hari Kamis. Meski koreksi harga tersebut sudah diperkirakan sebelumnya, tetapi sebagian pelaku pasar meyakini bahwa kondisi fundamental pasar tetap kuat karena masih berlanjutnya kesepakatan pemangkasan output yang digawangi Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan Rusia hingga akhir tahun 2018.

Kontrak Berjangka West Texas Intermediate (WTI) sempat menurun hingga 0.3% pada Jumat pagi ini dibanding harga settlement terakhir, padahal di hari sebelumnya sempat menyentuh high $64.77 per barel. Sedangkan Brent cenderung stagnan pada kisaran $69.27, setelah sebelumnya sempat mencapai $70.05, level tertinggi sejak Desember 2014.

 

Harga Minyak Melandai

 

Didukung OPEC Dan Risiko Politik

Sanjeev Bahl, analis di Edison Investment Research, mencatat dalam outlook tahun 2018 yang dikutip oleh Reuters, "OPEC telah sukses mengurangi surplus inventori global, dan pertumbuhan permintaan tetap sehat dalam jangka pendek". Lanjutnya lagi,"Ada potensi bagi harga minyak untuk bergerak lebih tinggi seiring (persediaan minyak mentah dalam) inventori bergerak ke level normal."

Perusahaan hedging Global Risk Management juga mengungkapkan dalam outlook 2018-nya bahwa "kemungkinan kenaikan harga minyak tahun ini nampak tak terelakkan". Latar belakangnya karena pemangkasan output yang dirintis oleh OPEC dan Rusia, serta risiko politik di Iran, resesi di Venezuela, dan konflik bersenjata di Libya. Pernyataan tersebut pun disampaikannya, meski produksi minyak AS yang saat ini berada pada laju 9.5 juta barel per hari (bph), diperkirakan akan naik hingga tembus 10 juta bph.

 

Pengilangan Di Asia Turunkan Permintaan

Terlepas dari optimisme sebagian pelaku pasar tersebut, masih ada sejumlah hambatan lain bagi harga minyak untuk meningkat. Salah satunya adalah penurunan pesanan minyak mentah dari pengilangan-pengilangan di Asia akibat berkurangnya marjin keuntungan mereka.

Di Singapura misalnya, rerata marjin keuntungan perusahaan pengilangan telah jatuh ke bawah $6 per barel pada bulan ini; level terendah musimannya dalam lima tahun terakhir. Akibatnya, beberapa pengilangan mulai memangkas output dan menurunkan pesanan minyak mentah. Hal serupa agaknya terjadi juga di China, dimana impor minyak mentah menurun ke 33.70 juta ton di bulan Desember, dari 37.04 ton di bulan November.

Dengan memperhitungkan faktor-faktor yang mendorong dan membebani harga minyak, sebuah survei yang dilakukan Reuters baru-baru ini atas 1,000 responden dari kalangan praktisi energi, menyimpulkan bahwa ekspektasi harga minyak tahun 2018 berkisar antara $60-70 per barel.

281916

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.