OctaFx

iklan

Harga Minyak Melonjak Ke USD79 Karena Konflik Geopolitik

Harga minyak kembali bergejolak karena Amerika Serikat melarang negara-negara lain untuk mengimpor minyak Iran. Namun, Senin ini (2/Juli) harga terkoreksi.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Brent Crude melonjak hingga USD79.53 pada hari Jumat lalu, sementara WTI mencapai USD74.43. Kedua harga minyak acuan dunia tersebut kembali diperdagangkan di kisaran tertinggi sejak akhir tahun 2014, karena Presiden AS Donald Trump memperketat sanksi atas Iran. Namun, pada awal perdagangan hari Senin ini (2/Juli), reli harga minyak kembali mengalami koreksi.

 

Harga Minyak Melonjak Karena Konflik Geopolitik

 

Penyebab Harga Minyak Melonjak

Dilansir dari CNN Money, kenaikan harga minyak hingga nyaris 15 persen pada pekan lalu didorong oleh konfluens berbagai faktor bullish. Diantaranya:

  • Sepekan sebelumnya, Arab Saudi bersama negara-negara OPEC lainnya dan Rusia sepakat untuk menaikkan produksi guna mengimbangi penyusutan pasokan global akibat krisis Venezuela. Namun, para pelaku pasar memperkirakan pemimpin de facto OPEC itu hanya memiliki sedikit ruang untuk merespon krisis di masa depan.
  • Presiden Trump meningkatkan tekanannya atas Iran yang notabene merupakan produsen minyak terbesar kelima dunia. Departemen Luar Negeri AS bersikeras negara-negara lain harus berhenti mengimpor minyak Iran; jika tidak, maka akan menghadapi sanksi dari Washington. "Kami memandang ini sebagai salah satu prioritas keamanan nasional," ungkap seorang pejabat kementrian pada reporter.

Akhir pekan lalu, Trump menolak permohonan negara-negara Uni Eropa agar dikecualikan dari keharusan untuk memblokir minyak Iran. Kemudian ketika ditanya apakah akan menjatuhkan sanksi pada perusahaan-perusahaan Uni Eropa apabila bertransaksi dengan Iran, dalam sebuah wawancara dengan Fox News, ia menjawab, "Ya, tentu saja, itu yang kami lakukan."

 

Ini Kondisi Hyper-Bullish

Output minyak dari Libya dan Venezuela -dua negara anggota OPEC- telah merosot selama beberapa bulan terakhir, karena masalah internal. Sementara itu, OPEC masih menjalankan kuota untuk membatasi produksi dari tiap negara.

Rapat OPEC terakhir di Wina telah setuju untuk menaikkan produksi, tetapi tidak sampai mencabut kuota yang telah ditetapkan. Akibatnya, sebagaimana disampaikan Bob McNally, presiden lembaga konsultasi Rapidan Energy Group, "Tak ada kapasitas (produksi) tersisa di pasar minyak, ketika ketegangan geopolitik meninggi."

Produksi minyak AS telah bertumbuh pesat hingga rekor tertinggi dalam sejarah, dikarenakan giatnya penambangan di Permian Basin, Texas Barat. Namun, pertumbuhan itu tidaklah tak terbatas.

Di sisi lain, negara produsen minyak raksasa lainnya, Kanada, mengalami masalah yang berbeda. Pemadaman listrik di Syncrude, Alberta, mengakibatkan penyusutan output sebesar 360,000 barel per hari (bph). Operator Syncrude, Suncor Energy, menyatakan masih mengevaluasi kapan produksi akan bisa beroperasi normal, dan akan terpaksa dihentikan setidaknya hingga awal Juli.


"Ini (kondisi) hyper-bullish," kata Mike Wittner, pimpinan global riset minyak di Societe Generale, "Realitanya, tak ada cukup kapasitas produksi di dunia (saat ini) untuk menggantikan semua ekspor minyak Iran dengan segera."


Walaupun demikian, belum diketahui dengan jelas apakah semua negara yang berlangganan minyak Iran bakal mentaati ancaman Washington. Seorang pejabat India mengungkapkan kemungkinan negaranya mengabaikan tuntutan tersebut, sedangkan China boleh jadi bakal mengacuhkan Trump di tengah perselisihan dagang kedua negara. Selain itu, Arab Saudi yang belakangan menjalin hubungan mesra dengan AS, nampaknya siap menggenjot output.

 

Saudi Siap Talangi Kekurangan Pasokan Global

Saat berita ini ditulis pada awal sesi Asia hari Senin (2/Juli), harga minyak Brent merosot 1.39% ke USD78.12 per barel, sedangkan WTI melorot 1.40% ke USD73.22. Pasalnya, pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan produksi Arab Saudi bakal mengimbangi penyusutan akibat sanksi atas Iran, meski sebelumnya sempat meragukan kemampuan negara Timur Tengah itu.

Dalam sebuah tweet-nya pada hari Sabtu, Trump menyampaikan bahwa Raja Salman bin Abdulaziz Al-Saud telah setuju untuk memproduksi lebih banyak minyak. Belakangan, Gedung Putih meralat pernyataan tersebut dengan menyampaikan bahwa sang Raja mengatakan negaranya siap menaikkan produksi minyak jika dibutuhkan saja.

Sebuah survey oleh Reuters yang diadakan pada hari Jumat mengungkap bahwa output Arab Saudi telah naik 700,000 bph dibandingkan bulan Mei. Total produksi mencapai 10.8 juta bph pada bulan Juni, dan ditargetkan naik lagi hingga 11 juta bph pada bulan Juli.

"Apabila permintaan (Trump) pada Saudi agar mereka menggiatkan produksi lagi itu benar, maka akan mampu memulihkan (suplai) yang terganggu," ujar Greg McKenna, pimpinan strategi pasar di Axitrader.

 

284209

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.