Advertisement

iklan

Harga Minyak Merosot Lagi, OPEC Diharap Bertindak

Fundamental boleh jadi tak cukup kuat untuk mendukung reli lebih lanjut, terutama dalam komoditas yang tergantung pada pertumbuhan ekonomi seperti minyak.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak merosot makin jauh pada sesi Asia Rabu pagi ini (4/Oktober), sehubungan dengan kewaspadaan pasar kalau-kalau kenaikan harga sepanjang kuartal tiga takkan berlanjut hingga akhir tahun, akibat peningkatan output minyak AS. Menurut para pakar, OPEC dan negara-negara produsen lainnya harus berupaya lebih jauh untuk menjaga kestabilan di pasar minyak.

Kantor OPEC Di Wina

 

Fundamental Dikhawatirkan Rapuh

Menurut Reuters, sebagian trader khawatir kalau-kalau kenaikan harga minyak sepanjang kuartal III/2017 sudah berlebihan. Sebagaimana dikutip dari pernyataan Ole Hansen, Pimpinan Strategi Komoditas SaxoBank dalam outlook kuartalannya, "Fundamental boleh jadi tak cukup kuat untuk mendukung reli lebih lanjut, terutama dalam komoditas yang tergantung pada pertumbuhan ekonomi seperti minyak."

Negara-negara yang tergabung dalam OPEC dan sejumlah produsen minyak lainnya, termasuk Rusia, telah bergabung untuk menjalankan kesepakatan pemangkasan output yang diharapkan dapat mendongkrak harga. Namun, upaya tersebut menghadapi banyak halangan. Pelaksanaan kesepakatan sudah 100%, tetapi sejumlah negara OPEC yang tak masuk di dalamnya, justru bebas menggenjot produksi.

Sementara itu, produksi minyak di Amerika Serikat, yang tidak ikut andil dalam kesepakatan pemangkasan output tersebut, masih terus meningkat. Produksi AS mencapai 9.55 juta barel per hari (bph) per akhir September, level tertingginya sejak Juli 2017 dan tidak jauh dari rekor tinggi 9.61 juta bph yang tercetak pada Juni 2015.

 

Perlu Menanggulangi Laju Produksi AS

"Jumlah sumur pengeboran aktif di AS naik minggu lalu, menggarisbawahi fakta bahwa harga minyak yang lebih tinggi tak pelak akan mengantarkan pada produksi shale AS yang lebih besar. Faktor-faktor ini telah mengekang (harga) minyak WTI dalam kisaran trading yang relatif ketat selama beberapa bulan ini," tulis William O'Loughlin, Analis di Rivkin Securities Australia, dalam catatannya untuk klien.

Karena peningkatan pesat output minyak AS juga, maka Hansen berpendapat, "Perpanjangan pemangkasan output hingga lebih dari Maret (2018) akan dibutuhkan untuk terus menopang pasar minyak."

Saat berita ini ditulis, harga minyak Brent telah menurun 0.65% ke $55.64 per barel. Minyak WTI telah merosot 0.73% ke $50.05 per barel dan nampaknya tengah berusaha menembus level psikologis $50.

280459

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.