Advertisement

iklan

Harga Minyak Mulai Rebound, Belum Tentu Reli

Setelah tumbang pekan lalu, kenaikan harga minyak berikutnya akan ditentukan oleh sejumlah data dari sektor migas Amerika Serikat.

Advertisement

iklan

Xm

iklan

Seputarforex.com - Harga Minyak menorehkan angka hijau pada perdagangan kemarin dan menanjak lebih tinggi pada awal sesi Asia hari Selasa (13/Februari), sejalan dengan kembali tenangnya pasar finansial global. Saat berita ditulis, Brent tercatat naik 0.53% ke 63.01, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 0.47% ke 59.63. Namun, kedua harga minyak acuan tersebut masih berada di level terendah sejak pertengahan Desember 2017, lantaran tumbang di tengah gejolak pasar finansial global sepanjang pekan lalu. Kemungkinannya untuk beranjak lebih tinggi akan ditentukan oleh sejumlah data dari sektor migas Amerika Serikat.

Harga Minyak

 

Sisi Suplai Pasar Minyak 

Dengan berakhirnya kepanikan dan aksi jual di pasar finansial, perhatian investor kembali berpaling pada data-data inventori minyak pekanan guna mengukur tingkat suplai minyak global. William O'Loughlin, analis investasi di Rivkin Securities Australia, mengatakan pada Reuters, "Perubahan dalam inventori (minyak AS) pekan ini akan krusial dalam menentukan apakah penurunan harga minyak lebih lanjut masih akan terjadi."

Sebagaimana lazim terjadi setiap pekan, American Petroleum Institute (API) dijadwalkan mempublikasikan estimasi inventori pada hari Selasa, sedangkan US Energy Information Administration (EIA) merilis data versi pemerintah di hari Rabu.

Sisi suplai minyak menjadi pusat perhatian saat ini. Pasalnya, permintaan minyak cenderung naik moderat, sedangkan output dari negara-negara produsen minyak yang tidak bergabung dalam kesepakatan pemangkasan output yang digalang OPEC dan Rusia, justru meningkat pesat.

 

Surplus Balik Lagi

Pada hari Senin, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) menyatakan, perkiraan permintaan minyak dunia naik sebanyak 1.59 juta barel per hari (bph) tahun 2018 ini ke total 98.6 juta bph. Angka tersebut lebih tinggi 60,000 bph dari estimasi sebelumnya, tetapi diproyeksikan akan tetap terpenuhi oleh suplai minyak dari luar OPEC.

Dalam laporan yang sama, OPEC memperkirakan AS dan sejumlah produsen minyak Non-OPEC lainnya akan menggenjot suplai sebesar 1.4 juta bph tahun ini, naik dari 250,000 bph pada bulan lalu. Meskipun OPEC dan sekutunya telah sepakat menahan output sejak awal tahun 2017 hingga akhir 2018, tetapi dampaknya teredam oleh kenaikan laju produksi diantara negara-negara yang tak mengikuti kesepakatan tersebut.

Data EIA terbaru menampilkan bahwa pasar minyak mengalami defisit suplai pada tahun 2017 karena kesepakatan pemangkasan output yang digalang OPEC. Namun, data juga menunjukkan surplus telah kembali dalam jumlah besar tahun ini.

282330

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.