Advertisement

iklan

Harga Minyak Naik Setelah China Balas Bea Impor AS

Harga Minyak Mentah tipe Brent naik 0.58 persen ke USD69.73, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik ke USD65.19 per barel.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga Minyak menunjukkan kenaikan kembali pada sesi Asia awal pekan ini (2/April), setelah sempat ditutup melemah pada akhir perdagangan Jumat lalu. Pasalnya, jumlah pengeboran di Amerika Serikat menunjukkan penurunan dalam data pekanan. Di sisi lain, makin menguat pula tanda-tanda AS akan mangkir dari kesepakatan nuklir Iran dan menerapkan sanksi atas negara produsen minyak terbesar kedua OPEC itu lagi. Turut memperkeruh situasi, China meresmikan bea impor balasan atas ratusan produk ekspor Amerika Serikat pada hari Minggu; memperkuat indikasi perang dagang antara kedua negara.

 

Harga Minyak - ilustrasi

 

Penurunan Aktivitas Pengeboran Di AS 

Saat berita ditulis, harga Minyak Mentah tipe Brent telah naik 0.58% dalam perdagangan intraday ke USD69.73 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) naik 0.48% ke USD65.19 per barel.

Stephen Innes dari OANDA Singapura mengatakan pada Reuters bahwa pasar Minyak terus menerus gelisah mengenai apakah pemerintah AS akan mempertahankan atau membatalkan kesepakatan nuklir dengan Iran. Selain itu, harga Minyak juga didukung oleh laporan mingguan yang menyebutkan terjadinya penurunan aktivitas pengeboran minyak di Amerika Serikat.

Pada Jumat dini hari (WIB), Baker Hughes melaporkan, jumlah sumur pengeboran (oil drilling rigs) menurun sebanyak 7 ke angka total 798 dalam periode sepekan yang berakhir tanggak 29 Maret. Ini merupakan penurunan pertama dalam tiga pekan terakhir, dan menjadi kabar baik bagi pelaku pasar sebelum libur Paskah yang berlangsung hingga hari Senin ini. Data periode berikutnya akan dipublikasikan pada akhir pekan.

 

Data Baker Hughes 29 Maret 2018

 

Bea Impor Balasan China 

China resmi mengumumkan bea impor sebesar 25 persen atas 128 jenis barang yang didatangkan dari Amerika Serikat, sebagai balasan atas bea impor logam tinggi yang diterapkan AS. Sebagian produk agri AS terdampak, termasuk daging babi beku, anggur, buah-buahan, dan kacang, dengan total mencapai USD3 Milyar. Bea impor tersebut akan efektif mulai hari Senin ini.

Dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan tadi pagi, Kementrian Perdagangan China menyatakan AS telah "sungguh-sungguh" melanggar prinsip-prinsip yang ditentukan World Trade Organization (WTO) dan mengganggu kepentingan China. Oleh karenanya, langkah ini dianggap hak China sebagai anggota WTO, walaupun mereka mengakui bahwa perselisihan selayaknya diselesaikan via dialog dan negosiasi.

Sejauh ini, belum ada isyarat eksplisit kalau perang dagang antara keduanya bakal merembet ke pasar Minyak. Namun demikian, patut untuk dicatat bahwa baik Amerika Serikat maupun China merupakan negara konsumen sekaligus produsen raksasa komoditas Minyak Mentah.

283053

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.