Advertisement

iklan

Harga Minyak Tegap Hadapi Rebound Produksi AS

Tingginya klaim pemangkasan output yang telah dilaksanakan oleh OPEC dan negara produsen minyak lain masih mendorong ekspektasi investor.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak hanya mengalami sedikit perubahan antara hari Senin hingga pagi ini (28/2), meski prospek pertumbuhan produksi minyak mentah Amerika Serikat terus membayangi. Tingginya klaim pemangkasan output yang telah dilaksanakan oleh OPEC dan negara produsen minyak lain masih mendorong investor untuk menanamkan dananya dalam aset ini dengan harapan harga akan naik lebih tinggi.

Harga Minyak

 

Investor Dan Spekulan Ramai-Ramai Beli Minyak

Minyak berjangka Brent untuk pengiriman bulan April melorot enam sen, atau 0.1%, dan ditutup pada harga settlement $55.93 di hari Senin. Sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 0.1% pagi ini ke $54.15 per barel.

Data dari InterContinental Exchange (ICE) yang dikutip oleh Reuters menunjukkan bahwa pertaruhan investor pada minyak mentah Brent naik ke rekor baru minggu lalu, tembus ambang 500,000 lot untuk pertama kalinya dalam sejarah. Sementara itu, data dari Commodity Futures Trading Commission (CFTC) yang dirilis Jumat juga menampilkan para spekulan menggenjot posisi bullish mereka pada kontrak futures dan options minyak mentah AS ke rekor tertinggi.

Secara keseluruhan, investor telah membeli kontrak futures dan options minyak mentah AS dan Brent senilai 951,321 lot, atau setara 1 milyar barel minyak dengan nilai kumulatif sekitar $52 milyar jika dihitung berdasar harga acuan Brent dan WTI saat ini.

 

Pertaruhan Berisiko Tinggi

"Dengan para spekulan meningkatkan pertaruhan bullish mereka pada minyak mentah AS ke rekor tertinggi sepanjang masa, risiko kekecewaan dan 'downward spiral' setelahnya menjadi sangat tinggi," ungkap Stephen Brennock dari perusahaan broker minyak PVM.

Apalagi, sejumlah risiko terus membuntuti tren tersebut. Diantaranya, sejumlah negara OPEC yang diam-diam masih terus menggenjot produksi, meski anggota lainnya telah mengurangi output. Iran, Libya, dan Nigeria telah dikecualikan dari kesepakatan pemangkasan produksi yang berlaku mulai Januari lalu hingga pertengahan tahun ini. Selain itu, meski pihak OPEC mengaku pelaksanaan pemangkasan pada bulan Januari sudah 90% dari kesepakatan, tetapi hasil survey Reuters hanya menunjukkan 88% saja.

"Dengan spekulasi bullish sudah berada pada rekor tinggi... beberapa hal yang Anda harus perhatikan adalah rebound produksi minyak AS dan pertumbuhan output dari Iran, Nigeria, dan Libya," kata Kyle Cooper, seorang konsultan di IONEnergy Houston.

Data dari Baker Hughes menunjukkan jumlah sumur pengeboran aktif AS bertambah lima dalam waktu sepekan yang berakhir tanggal 24 Februari. Dengan demikian, total oil drilling rigs di negeri Paman Sam mencapai 602, terbanyak sejak Oktober 2015.

277815

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.