Advertisement

iklan

Harga Minyak Tergelincir Akibat Kenaikan Suplai, Tapi Analis Optimis

Laporan tentang kenaikan suplai di negara-negara OPEC dan AS mengakibatkan harga minyak jatuh antara antara 0.30-0.40 persen awal pekan ini.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak mentah Brent dan WTI tergelincir, segera setelah perdagangan awal hari Senin ini (3/September) dibuka. Penyebabnya adalah kenaikan output dari negara-negara anggota Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan Amerika Serikat, dua kawasan penghasil minyak terbesar di dunia.

Saat berita ditulis, harga minyak Brent telah merosot sebesar 0.30 persen ke USD77.40, sementara WTI anjlok 0.42 persen ke USD69.58. Padahal, pekan lalu kedua harga minyak acuan tersebut sempat menghuni level tertinggi dalam sekitar sebulan terakhir, lantaran ada kekhawatiran mengenai dampak sanksi atas Iran.

Harga Minyak

 

Lonjakan Suplai AS dan OPEC

Survei Reuters pada akhir pekan melaporkan temuan bahwa output OPEC mengalami peningkatan sebesar 220,000 barel per hari (bph) antara bulan Juli dan Agustus, sehingga mengantarkan output ke level tertinggi tahun ini pada angka total 32.79 Juta bph. Peningkatan tersebut disebabkan oleh pemulihan produksi Libya serta pencapaian rekor ekspor tertinggi di kawasan Irak bagian selatan.

Pada hari Jumat, Baker Hughes juga melaporkan adanya kenaikan jumlah oil drilling rigs sebanyak 2 unit ke angka total 862. Tingginya jumlah rig telah mendongkrak produksi minyak mentah AS sebesar lebih dari 30 persen sejak pertengahan tahun 2016 ke level tertinggi sepanjang masa pada kisaran 11 Juta bph.

 

Optimis Harga Tetap Akan Naik?

Meskipun harga minyak mengalami penurunan hari ini, sejumlah analis masih tetap optimis. Stephen Innes dari OANDA mengatakan, Brent ditopang oleh anggapan bahwa sanksi AS atas ekspor minyak mentah Iran pada akhirnya akan mengakibatkan pasar tertekan; suatu hal yang diperkirakannya akan mendorong harga meningkat.

Laporan Reuters pekan lalu menyebutkan bahwa total volume produk minyak yang dimuat di Iran pada bulan Agustus hanya mencapai 64 juta barel, atau 2.06 juta barel per hari (bph). Padahal, total volume tertinggi sebelumnya di bulan April mencapai 92.8 juta barel, atau 3.09 bph.

Sebagian analis memperingatkan bahwa perlambatan ekonomi yang diakibatkan oleh konflik dagang antara AS dan negara-negara raksasa lainnnya (seperti China dan Uni Eropa) dapat mengakibatkan penurunan harga minyak dalam jangka panjang. Akan tetapi, Innes menilai masih terlalu dini untuk memprediksi apakah hal itu benar-benar bisa terjadi.

"Walau para analis terus menerus khawatir kalau bea impor atas barang-barang senilai USD200 Milyar (antara China dan AS) itu akan menjatuhnya permintaan atas minyak, masih belum jelas sama sekali kalau kondisi ekonomi (melambat) seperti itu akan menumbangkan harga minyak, dikarenakan...gangguan suplai yang terjadi secara konstan," ungkap Innes yang dikenal sebagai pakar analisa fundamental di media-media internasional ini.

285131

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.