Advertisement

iklan

Harga Minyak Terjun Bebas Tersorong Tingginya Inventori Amerika

Harga minyak mentah berjangka Brent melorot 3.6% ke angka $52.93 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 3.8% ke harga $50.44 per barel.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak anjlok ke level rendah dua pekan pada Rabu malam tadi setelah inventori minyak Amerika Serikat dilaporkan melonjak lebih besar dari perkiraan. Peningkatan produksi minyak AS telah memupuskan upaya negara-negara produsen minyak lainnya dalam menanggulangi limpahan surplus minyak dunia.

Inventori Minyak AS Di Cushing Oklahoma

 

Harga Minyak Anjlok Lebih Dari 3%

Tadi malam, harga settlement untuk minyak mentah berjangka Brent melorot 3.6% ke angka $52.93 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) merosot 3.8% ke harga $50.44 per barel. Saat berita ditulis Kamis pagi ini (20/4), Brent sudah sedikit menanjak di angka $53.30, tetapi WTI masih mangkrak pada $50.40.

Laporan pekanan US Energy Information Agency (EIA) terbaru menyebutkan bahwa persediaan minyak mentah AS hanya menurun sebanyak 1 juta barel, lebih kecil dibanding perkiraan. Di sisi lain, persediaan Gasolin mencatat kenaikan 1.5 juta barel, jauh melampaui rekor musiman.

Peningkatan persediaan gasolin yang sangat mengejutkan ini bersama dengan laporan kenaikan produksi AS yang dirilis pada hari Senin, menekan harga minyak. Apalagi, EIA juga mengatakan bahwa impor mingguan dari negara-negara OPEC ke kawasan Amerika Serikat meningkat sebanyak 900,000 barel.

"Inventori bersikukuh tetap tinggi," kata Gene McGillian, Manajer Riset Pasar di Tradition Energy yang berkantor di Stamford, Connecticut, pada Reuters. Ia mengatakan bahwa seiring dengan AS memasuki musim panas, "peningkatan persediaan gasolin mengarah pada fakta bahwa permintaan (terhadap BBM) tidak setinggi yang kita perkirakan."

 

Produksi AS Gagalkan Upaya OPEC

Limpahan surplus suplai minyak global tak juga menurun, meski Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan negara-negara produsen lainnya telah berupaya menurunkan output sebesar nyaris 1.8 juta barel per hari dalam paruh pertama tahun 2017.

"Peningkatan level produksi AS mengimbangi lebih dari sepertiga output yang telah dipangkas dalam kesepakatan enam bulan OPEC," ujar McGillian,"Ini merupakan alarm peringatan bagi kekuatan pasar."

Senada dengan McGillian, Robert Yawger, Pakar Strategi Energi Berjangka di Mizuho Americas, berkomentar, "Mereka menurunkan produksi, kita menambah produksi, dan pada akhirnya jadi jelek."

278584

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.