Advertisement

iklan

Harga Minyak Terkoreksi Di Tengah Jeda Konflik AS-Iran

Pelaku pasar menimbang kembali tensi geopolitik Timur Tengah, dan masih menanti informasi terbaru mengenai langkah balasan yang akan dilakukan Iran terhadap AS.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Harga minyak turun pada perdagangan hari Selasa (07/Januari), karena pelaku pasar tengah memperhitungkan ulang risiko terkait tensi geopolitik Timur Tengah. Pada saat berita ini ditulis, minyak Brent berada pada kisaran $69.11 per barel, turun dari kisaran $70 yang sempat tersentuh di sesi perdagangan kemarin.

Harga minyak terkoreksi

Pergerakan serupa juga terlihat pada minyak WTI (West Texas Intermediate), yang saat ini diperdagangkan pada kisaran $62.78 per barel. Sebelumnya, harga minyak dari AS ini sempat menyentuh level tertinggi sejak akhir April 2019. Baik minyak Brent maupun WTI sama-sama berada dalam fase koreksi karena minimnya informasi mengenai langkah balasan yang akan dilakukan Iran terhadap AS.

 

Aksi Balasan Iran Diragukan

Meskipun tensi konflik di Timur Tengah terlihat lebih tenang daripada situasi pada akhir pekan lalu, pasar masih diliputi kekhawatiran. Pasalnya, konflik antara AS dan Iran berpotensi menghambat selat Hormuz yang menjadi pintu gerbang distribusi 30 persen minyak mentah dunia.

Namun, sebagian analis meragukan bahwa Iran akan nekat menutup akses selat Hormuz. Hal itu akan merugikan pihak Iran sendiri, mengingat mereka juga bertindak sebagai salah satu negara pengekspor minyak terbesar yang saat ini sangat membutuhkan dana segar untuk melanjutkan program nuklirnya.

"Iran sangat membutuhkan pendapatan mata uang asing (devisa) dari ekspor minyak yang berkelanjutan. Fakta ini bertentangan dengan kepentingan mereka jika memblokade selat Hormuz, dan pelaku pasar masih memperhitungkan ulang terkait skenario apa yang akan Iran ambil," kata Achlan Shaw, kepala riset komoditas di National Australia Bank.

Pendapat senada juga dilontarkan oleh seorang Konsultan energi dari Eurasia Group, yang mengatakan bahwa Iran kemungkinan akan lebih fokus pada militer AS. "Mungkin akan ada sedikit hambatan pada jalur distribusi minyak, tapi aksi Iran tidak akan parah," demikian ungkapnya.

291554

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.