Advertisement

iklan

Harga Minyak Turun 5 Dolar Per Barel Dalam Sepekan

Harga minyak turun drastis akibat komentar pejabat Arab Saudi. Pasalnya, OPEC dan Rusia bisa jadi akan longgarkan aturan kuota.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Hanya selang beberapa hari setelah mencapai level tertinggi sejak November 2014, harga minyak anjlok. Pada perdagangan hari Senin, Brent merosot hingga low USD74.51, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) mencapai low USD 65.83. Masing-masing harga minyak acuan telah minus sekitar lima Dolar AS per barel dari level tertinggi yang dicapai pertengahan pekan lalu.

Penurunan tajam harga minyak dipicu oleh komentar Menteri Perminyakan Arab Saudi, Khalid Al-Falih, pada hari Jumat. Dalam sebuah panel yang digelar CNN di St Petersburg, Rusia, Al-Falih menyatakan bahwa ia tengah menjalani diskusi intensif dengan Rusia dan beberapa negara OPEC lainnya untuk meningkatkan suplai minyak global.

 

Khalid Al-Falih

 

"Merupakan keinginan semua produsen untuk memastikan bahwa pasar minyak tetap sehat, dan jika itu berarti (harus) menyesuaikan kebijakan kami pada bulan Juni, (maka) kami tentu siap untuk melakukannya," kata Al-Falih. Lebih lanjut, ia menilai peningkatan suplai boleh jadi diperlukan guna menutupi kekurangan akibat kolapsnya Venezuela dan potensi dampak sanksi AS terhadap Iran.

OPEC dan Rusia dijadwalkan berapat di Wina pada 22 Juni mendatang untuk mendiskusikan pembatasan output yang membuat negara-negara tersebut menerapkan kuota secara sukarela sejak awal 2017. Sebelumnya, Al-Falih mensinyalkan kesiapan untuk memperpanjang pembatasan output hingga 2019. Namun, kini ia berbalik haluan.

"Impresi pelonggaran kuota itu saja sudah cukup untuk membatasi kenaikan harga (minyak)," kata Hussein Sayed, pimpinan strategi pasar di FXTM, sebagaimana dikutip oleh CNN, "Mulai dari sekarang hingga pertemuan (Juni), komentar yang beredar akan terus menggerakkan harga."

Selain itu, berlanjutnya kenaikan produksi minyak AS turut menekan harga minyak. Akhir pekan lalu, Baker Hughes melaporkan bahwa jumlah oil drilling rigs di negeri Paman Sam meningkat dari 844 ke 859 dalam sepekan. Data Baker Hughes merupakan proxy indikator aktivitas pengeboran minyak AS, dengan peningkatan rig count menandakan meningginya laju produksi.

283854

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone