Advertisement

iklan

EUR/USD 1.083   |   USD/JPY 150.410   |   GBP/USD 1.268   |   AUD/USD 0.656   |   Gold 2,035.43/oz   |   Silver 22.70/oz   |   Wall Street 39,193.54   |   Nasdaq 16,004.25   |   IDX 7,295.10   |   Bitcoin 50,731.95   |   Ethereum 2,921.66   |   Litecoin 68.83   |   Pound Sterling stabil saat investor mencari wawasan baru seputar suku bunga BoE, 1 hari, #Forex Fundamental   |   EUR/JPY melanjutkan penguatan di atas level 163.00 setelah data PDB Jerman, 1 hari, #Forex Teknikal   |   NZD/USD bergerak stagnan di sekitar level psikologis 0.6200, 1 hari, #Forex Teknikal   |   GBP/JPY mengambang di sekitar level 190.60 dengan bias positif untuk melanjutkan kenaikan, 1 hari, #Forex Teknikal   |   BEI menyetop perdagangan saham PT Multi Medika Internasional Tbk. (MMIX) dan PT Citra Nusantara Gemilang Tbk. (CGAS) pada perdagangan hari ini sehubungan dengan terjadinya penurunan harga kumulatif yang signifikan, 1 hari, #Saham Indonesia   |   PT Link Net Tbk. (LINK) mencetak rugi bersih Rp532 miliar sepanjang tahun 2023 lalu, 1 hari, #Saham Indonesia   |   PT Bukaka Teknik Utama Tbk. (BUKK) milik keluarga Jusuf Kalla dirikan perusahaan baru di Oman, 1 hari, #Saham Indonesia   |   S&P 500 berakhir pada rekor tertinggi, naik 2.11%, menjadi 5,087. Demikian pula Dow Jones Industrials, yang ditutup pada 39,069 setelah naik 1.18%. Nasdaq Composite bertambah 2.96%, menjadi 16,041, 1 hari, #Saham AS
Selengkapnya

HSBC: Lupakan Perang Mata Uang, Sekarang Saatnya Perang Deflasi

Penulis

Dalam catatannya, HSBC juga menyebutkan bahwa masa moneter sekarang ini layaknya perang mata uang. Daripada menghilangkan kecenderungan deflasi, bank-bank sentral lebih memilih menggelontorkan stimulus moneter untuk mengekspor deflasi ke negara lain di dunia.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Meskipun semua likuiditas ditumpahkan demi sistem keuangan pelongggaran kuantitatif, inflasi masih saja rendah dan mengkhawatirkan dan hal tersebut kemungkinan bank-bank sentral yang masih berupaya untuk mengekspor deflasi, demikian yang diungkapkan oleh HSBC.

perang_mata_uang
Dalam catatannya, HSBC juga menyebutkan bahwa masa moneter sekarang ini layaknya perang mata uang. Daripada menghilangkan kecenderungan deflasi, bank-bank sentral lebih memilih menggelontorkan stimulus moneter untuk mengekspor deflasi ke negara lain di dunia. Anjloknya nilai tukar yang cukup besar menjadi sebuah gejala awal diadakannya pelonggaran kuantitatif dari bank-bank sentral global, yang secara temporer meningkatkan inflasi bagi negara-negara "penyelenggara".

Namun, tak dapat dihindari bahwa dalam setiap penurunan sebuah nilai mata uang, pasti ada kenaikan di nilai mata uang lain. Dan bagi mata uang lain yang terkena dampak kenaikan nilai mata uang, pada akhirnya mengalami inflasi yang lebih rendah daripada yang diprediksikan atau bahkan jauh lebih rendah dari yang diharapkan seperti yang terjadi pada zona Euro dalam seester kedua tahun ini.

Kecuali Jepang, semua wilayah baru-baru ini telah mengalami kemerosotan yang tak terduga dalam inflasi. Hal tersebut mungkin dikarenakan oleh suku bunga yang diefektifkan di kisaran nol, sehingga stimulus moneter lebih mendorong harga-harga aet tanpa memacu pertumbuhan ekonomi lebih cepat. Rendahnya inflasi menghadirkan bahaya yang cukup serius bagi pemulihan ekonomi.

"Dalam siklus ekonomi standar, aktivitas mengarah kepada inflasi." demikian pernyataan HSBC. "Dalam sebuah lingkungan pasca bubble, dimana utang sangat tinggi dan deleveraging (penurunan pemberian utang) menyebar luas, hal yang berlaku sebaliknya adalah inflasi yang rendah akhirnya meningkatkan level-level utang sehingga menyulitkan deleveraging dan biasanya akan menekan permintaan dan aktivitas.

Jepang, lagi-lagi, adalah sebuah contoh nyata negara yang sempat mencatatkan pemulihan pada pertengengahan tahun 90-an namun akhirnya harus kembali tergelincir akibat adanya kombinasi deflasi yang terus merangkak serta kebijakan pengetatan yang terlalu dini.

149624
Penulis

SFN merupakan hasil kerjasama beberapa personel tim Seputarforex untuk mengulas berita-berita terkini di bidang forex maupun saham.