Advertisement

iklan

Inflasi AS Makin Tinggi, Dolar Hadapi Ancaman Resesi

Penulis

+ -

Data inflasi AS yang sangat tinggi menimbulkan gejolak luar biasa hari ini. Dolar AS awalnya menguat, tetapi kemudian tumbang mendadak.

iklan

iklan

Seputarforex - Indeks dolar AS (DXY) menanjak sejenak lalu anjlok sekitar 1 persen sampai kisaran 112.40-an seusai rilis data inflasi Amerika Serikat pada sesi New York (13/Oktober). Greenback melemah terhadap beragam mata uang mayor lain, kecuali pasangan mata uang USD/JPY yang tetap melanjutkan reli hingga menembus rekor tertinggi baru dalam 24 tahun terakhir.

DXY Daily Grafik DXY Daily via TradingView

Harga barang dan jasa di tingkat konsumen AS terus melambung dengan laju yang melampaui estimasi semua pihak. Indeks Harga Konsumen AS tercatat tumbuh 0.4 persen (Month-over-Month) pada periode September, atau dua kali lipat lebih tinggi dibanding estimasi konsensus yang hanya 0.2 persen. Inflasi Inti bahkan naik lagi setinggi 0.6 persen (Month-over-Month), sehingga pertumbuhan tahunannya naik dari 6.3 persen menjadi 6.6 persen.

Data-data ini mengisyaratkan bahwa kenaikan suku bunga The Fed lagi sebesar 75 basis poin saja mungkin tidak cukup untuk mengatasi laju inflasi. Ekspektasi pasar untuk "rate hike" lanjutan sebesar 100 basis poin pun langsung mengemuka. Akan tetapi, terdapat risiko perlambatan ekonomi yang semakin tajam seiring dengan makin tingginya suku bunga.

Kurs dolar AS terpukul merespons rilis data tersebut. Di satu sisi, posisi short menumpuk telah memicu short squeeze yang menguntungkan rival-rival USD dalam jangka pendek. Di sisi lain, para analis menyoroti tingginya risiko resesi di negeri Paman Sam.

"Siapapun yang mengatakan (The Fed bisa) berubah (kebijakan) sekarang ini sedang berangan-angan. The Fed harus menangani inflasi sekarang (dengan terus menaikkan suku bunga secara agresif -red)," kata Arthur Laffer, presiden Laffer Tengler Investments, sebagaimana dilansir oleh Reuters, "Soft landing juga menjadi angan-angan seiring dengan makin tingginya suku bunga. Kita akan menghadapi kuartal keempat yang sangat lemah, bahkan mungkin negatif."

"Data hari ini mengonfirmasi ketakutan pejabat tinggi Fed bahwa inflasi lebih bandel dari yang diperkirakan sebelumnya. Walaupun harga energi turun selama beberapa bulan ke depan, inflasi kemungkinan hanya akan turun sedikit dan tetap jauh lebih tinggi dari target 2%," kata Dr Christoph Balz, ekonom AS di Commerzbank, "Kebijakan moneter harus menjadi 'cukup' restriktif untuk mencapai (target inflasi) ini, dan The Fed harus mempertahankan langkah (kenaikan suku bunga) ini bahkan meski pasar tenaga kerja melemah."

Saat berita ditulis, EUR/USD telah naik sampai mengetuk level 0.9800 lagi. AUD/USD dan NZD/USD juga berhasil "mantul" dari rekor terendah masing-masing.

Kinerja terbaik ditunjukkan oleh GBP/USD yang meroket sekitar 200 pips dalam tempo sangat singkat. Sterling bukan hanya terpacu oleh reaksi negatif USD terhadap rilis data inflasi ini, melainkan juga rumor bahwa pemerintah Inggris bakal membatalkan rencana fiskalnya yang kontroversial.

Download Seputarforex App

298379
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.