Advertisement

iklan

EUR/USD 1.082   |   USD/JPY 150.360   |   GBP/USD 1.264   |   AUD/USD 0.651   |   Gold 2,043.31/oz   |   Silver 22.91/oz   |   Wall Street 38,996.39   |   Nasdaq 16,091.92   |   IDX 7,291.39   |   Bitcoin 61,198.38   |   Ethereum 3,341.92   |   Litecoin 79.94   |   PT Millennium Pharmacon International Tbk. (SDPC) bidik ekspansi hingga 45 cabang, siapkan capex Rp30 miliar, 22 menit lalu, #Saham Indonesia   |   Pertamina Geothermal Energy (PGEO) membukukan laba bersih Rp2.53 Triliun sepanjang 2023. Angka tersebut naik 28.47% secara year-on-year (YoY), 23 menit lalu, #Saham Indonesia   |   PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) menilai laba atau bottom line yang dihasilkan dari bisnis infrastruktur lebih stabil dibandingkan petrokimia, 23 menit lalu, #Saham Indonesia   |   Laba bersih Japfa Comfeed (JPFA) turun 34.52% YoY menjadi Rp929.71 miliar sepanjang 2023, 24 menit lalu, #Saham Indonesia
Selengkapnya

Inggris Tertindih Ancaman Resesi dan Defisit Ganda

Penulis

Publikasi data GDP Inggris tadi sore memperkuat bias bearish dalam fundamental mata uang pound sterling, sehingga GBP/USD menurun dan EUR/GBP meningkat.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex - Nilai tukar pound sterling semakin melemah dalam perdagangan hari Kamis (22/Desember). GBP/USD melemah lebih lanjut sampai kisaran 1.2050-an, sementara EUR/GBP mendaki 0.5 persen ke 0.8820-an. Setelah terpukul oleh pengumuman bank sentral pekan lalu, publikasi data Gross Domestic Product (GDP) Inggris tadi sore memperkuat bias bearish dalam fundamental mata uang ini.

GBPUSD DailyGrafik GBP/USD Daily via TradingView

Perekonomian Inggris mengalami kontraksi sebesar -0.3 persen pada kuartal III/2022, lebih buruk daripada estimasi sebelumnya yang sebesar -0.2 persen (Quarter-over-Quarter). Laju pertumbuhan GDP tahunan pun terseret turun dari 4.4 persen menjadi 1.9 persen saja, padahal sebelumnya diperkirakan hanya melambat sampai 2.4 persen. Angka-angka tersebut menunjukkan kondisi ekonomi Inggris yang relatif tertinggal dibanding sejumlah negara maju lain.

"Data nasional mengonfirmasi bahwa Inggris Raya adalah satu-satunya negara G7 yang data GDP kuartal ketiganya masih di bawah tingkat pra-COVID," kata Samuel Tombs, kepala ekonom Inggris di Pantheon Macroeconomics, "Kinerja Inggris Raya kemungkinan akan terus buruk; kami memperkirakan Inggris akan mengalami resesi paling buruk dibanding negara-negara maju lain dalam 2023, karena buruknya tekanan dari kebijakan fiskal dan moneter."

Data pinjaman publik yang dirilis pada hari Rabu mengungkap ancaman lain yang mengintai pound sterling, yakni defisit neraca transaksi berjalan dan defisit fiskal. Pasalnya, pinjaman publik Inggris bulan lalu menunjukkan kenaikan tertinggi dibandingkan riwayat bulan-bulan November sebelumya.

"Data pinjaman hanyalah pengingat tentang betapa sulitnya posisi Inggris secara fiskal," kata Sean Callow, pakar strategi mata uang senior di Westpac, "Di dunia di mana sentimen risiko masih sangat rapuh, mata uang yang negaranya memiliki defisit ganda berada dalam risiko lebih besar dibanding negara lainnya."

Download Seputarforex App

298722
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.