Advertisement

iklan

Inikah Saatnya Berinvestasi Di Yuan?

Mulai dari 1 Oktober 2016, Renminbi akan menjadi mata uang yang bisa dipakai bebas dan termasuk dalam kelompok SDR bersama dengan Dolar AS, Euro, Yen Jepang, dan Pound Inggris. Berbagai pihak pun kini bertanya-tanya, apakah ini saatnya berinvestasi di Yuan?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Jalan bagi Renminbi, atau yang lebih akrab disebut Yuan dan kadang dijuluki Redback, untuk menjadi salah satu mata uang cadangan dunia terbuka lebar pekan lalu. International Monetary Fund (IMF) pada tanggal 30 November mengakhiri review lima tahunannya dengan memutuskan bahwa mata uang People's Republic of China tersebut telah memenuhi kriteria Special Drawing Rights (SDR). Mulai dari 1 Oktober 2016, Renminbi akan menjadi mata uang yang bisa dipakai bebas dan termasuk dalam kelompok SDR bersama dengan Dolar AS, Euro, Yen Jepang, dan Pound Inggris. Berbagai pihak pun kini bertanya-tanya, apakah ini saatnya berinvestasi di Yuan?

ilustrasi

 

Aman Dan Dapat Diandalkan?

Keputusan IMF tersebut disambut hangat oleh China. Tak heran, sebagaimana dikatakan oleh Direktur IMF, Christine Lagarde, integrasi Renminbi dalam SDR merupakan tonggak bersejarah integrasi perekonomian China ke dalam sistem finansial global. Itu juga merupakan pengakuan dunia internasional terhadap berbagai kemajuan yang sudah diupayakan oleh otoritas China dalam mereformasi sistem finansial dan moneternya beberapa tahun terakhir.

Penunjukan suatu mata uang sebagai bagian dari SDR menggarisbawahi makin vitalnya peran Renminbi. Banyak bank sentral menggunakan SDR untuk menentukan mata uang apa saja yang akan dimasukkan dalam forex reserve-nya (di Indonesia dikenal juga sebagai Cadangan Devisa). Dengan memasukkan Renminbi dalam SDR, IMF secara tidak langsung menyatakan bahwa mata uang tersebut aman, bisa diandalkan, dan dapat digunakan dengan bebas dalam transaksi internasional. Tak pelak, bank-bank sentral dan institusi finansial swasta pun bakal menambah koleksi Renminbi di brankas mereka.

Bahkan sebelum Renminbi dideklarasikan sebagai salah satu dari lima mata uang SDR, akar-akarnya sudah kuat menjalar kemana-mana. Secara agresif, China mendukung penerbitan obligasi dan kontrak komoditas dalam Yuan. Kemudian juga, dalam laporan SWIFT terbaru disebutkan bahwa Yuan China telah masuk lima besar mata uang yang digunakan dalam sistem pembayaran di Dunia. Bahkan, secara khusus dalam perdagangan antara China dan Jepang, mata uang ini mengalahkan Dolar Hong Kong dan Dolar AS sebagai mata uang teraktif kedua. Kini, dalam komposisi SDR IMF pun, Yuan menggeser Euro, sebagaimana bisa dilihat dalam gambar dibawah ini.

Komposisi SDR IMF

Dilihat dari besarnya porsi Renminbi (11 persen), mata uang merah tersebut bisa jadi dipandang IMF lebih baik ketimbang Yen Jepang atau Pound Inggris yang masing-masing mulai tahun depan hanya mendapat jatah 8 persen.

 

Tiga Hal Penting Tentang Yuan

Penempatan Renminbi dalam SDR pun pasti akan menarik lebih banyak investor untuk mengincarnya. Namun demikian, bila Anda juga akan ikut-ikutan, ada beberapa hal yang perlu diketahui:

1. Nilainya Belum Tentu Terus Meningkat
Salah satu karakter pasar forex dimana mata uang-mata uang diperdagangkan dengan bebas adalah: nilai setiap mata uang bisa naik-turun. Apalagi, perekonomian China belum berada diatas fondasi yang kokoh. Ingat gejolak pasar modal China beberapa waktu lalu yang sempat berefek domino. Ingat juga bagaimana bank sentral berulang kali merubah kebijakan secara drastis dalam tempo singkat untuk membendung perlambatan ekonominya. Risiko-risiko dan ketidakpastian ini tidak asing dilihat di pasar forex, dan kita semua pun tahu bahwa jalan bagi mata uang di pasar ini bukan cuma naik, tetapi juga turun.

2. Intervensi Pemerintah
Faktor lain lagi yang perlu diperhatikan oleh siapa saja yang ingin berinvestasi dalam Yuan adalah "hobi" Pemerintah China dan bank sentralnya untuk mendevaluasi Yuan guna mendukung para eksportirnya. Perlu diingat bahwa dengan mata uang didevaluasi, maka produk-produk China bisa jadi lebih murah di pasar dunia dan memungkinkan mereka untuk mendominasi supply berbagai jenis produk. Strategi itu telah berhasil sejauh ini, dan belum nampak tanda-tanda mereka akan berhenti melakukannya dalam waktu dekat.

Dalam mendevaluasi Renminbi, China merubah nilai mata uangnya setiap pagi, dan dengan demikian mempengaruhi seberapa jauh pasar bisa mempengaruhi harga. Ini menjadi risiko investasi tersendiri bagi mereka yang berkeinginan memegang Renminbi.

3. Biaya Trading Tinggi
Meski termasuk salah satu mata uang yang bakal banyak dipakai dalam transaksi internasional, tetapi jumlah broker forex yang menyediakan Yuan masih sangat sedikit; kalaupun ada, lazimnya hanya berpasangan dengan Dolar AS. Selain itu, likuiditasnya sangat terbatas, dan karenanya maka spread pun biasanya luar biasa besar. Di OANDA, misalnya, rerata spread secara historis dalam seminggu terakhir sempat mencapai 35 pips, dan pada 19 Oktober bahkan menyentuh 81.3 pips. Sementara itu, IG menyediakan CNH dalam beberapa pair eksotik selain USD/CNH, yaitu AUD/CNH, CNH/JPY, dan EUR/CNH, dengan spread umumnya bisa mencapai puluhan pips.

Spread USD/CNH OANDA

Sedangkan spread untuk USD/CNH dan pair-pair cross offshore Renminbi lainnya di kalangan broker-broker metatrader4 bisa lebih rendah, tetapi tetap saja tergolong tinggi. Sebagaimana bisa diamati diantara broker metatrader4 yang menyediakan pair-pair sejenis seperti Alpari, FXTM, dan Pepperstone. Meskipun spread minimal tertulis dibawah puluhan pips, tetapi jelas lebih tinggi ketimbang spread pada pair-pair mayor yang lebih umum ditradingkan.

Tentu saja, biarpun trading mungkin sulit, tetapi jual-beli fisik bisa jadi lebih mudah; apalagi Yuan dengan simbol CNY sudah termasuk jajaran valas yang cukup banyak disediakan money changer di Indonesia. Mulai dari sekarang, "demand"-nya akan makin luas, dan karenanya bisa diterjemahkan sebagai saat yang tepat untuk beli Yuan. Namun, siapapun yang berminat untuk berinvestasi di valas perlu memahami bahwa di pasar valas, nilai suatu mata uang tidak selalu naik.

255851

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.