Inilah Alasan Mengapa Investor Harus Waspadai Ketegangan Jepang-Cina

Konflik bilateral yang terjadi antara Cina dan Jepang kembali berkobar beberapa waktu lalu. Para analis politik menyatakan bahwa konflik militer antara dua macan Asia ini bukanlah diakibatkan oleh kepentingan partai-partai tertentu, melainkan karena Jepang yang diboncengi oleh Amerika Serikat, yang mana akan sulit dilawan oleh Cina.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Konflik bilateral yang terjadi antara Cina dan Jepang kembali berkobar beberapa waktu lalu. Setelah sebelumnya diributkan oleh masalah invasi tenaga kerja yang dituduhkan pada Jepang, kali ini disebabkan oleh masalah pulau Diayou yang merupakan wilayah teritorial Cina, yang diinvasi oleh Jepang. Para analis politik menyatakan bahwa konflik militer antara dua macan Asia ini bukanlah diakibatkan oleh kepentingan partai-partai tertentu, melainkan karena Jepang yang diboncengi oleh Amerika Serikat, yang mana akan sulit dilawan oleh Cina.

Selain itu, para pengamat politik juga menambahkan bahwa situasi di Asia ini terbilang berbahaya, pasalnya stereotipe negara Cina yang mudah tersinggung ini sedang mempertegas posisi mereka di Cina Selatan dan Laut Cina Timur, sehingga Jepang merasa perlu untuk bertindak waspada, dan Amerika Serikat mengamini tindakan Jepang tersebut.

konflik_jepang_cina

Dampak Pada Sektor Ekonomi
Keruhnya hubungan politik kedua negara yang paling berpengaruh di Asia ini mau tak mau mengimbas sektor ekonomi dan stabilitas regional. Estimasi perdagangan bilateral kedua negara ini berkisar $300 M, sehingga dengan memburuknya relasi kedua negara, maka tak heran jika akan terjadi kegemparan yang cukup signifikan pada perekonomian Asia.

Sebagai contoh, pengiriman barang dari Jepang ke Cina langsung tumbang hingga 14.1 persen pada bulan September 2012 terhitung sejak awal tahun tersebut, angka tersebut merupakan kemerosotan tercuram selama tahun 2012. Semenjak itulah, ketegangan antara Jepang dan Cina semakin memburuk, ditambah lagi, pihak anti-Jepang di seluruh wilayah Cina memboikot produk-produk Jepang. Contoh lain, adalah deklarasi wilayah teritorial Laut Cina Timur oleh Cina serta mengimplementasikan batasan perikanan yang baru di Laut Cina Selatan. Padahal, wilayah tersebut juga sempat diklaim oleh Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan. Tak pelak, ulah Cina terebut membuat negara-negara tetangganya ikut jengkel.

Tampak jelas bahwa Cina sedang melakukan upaya hegemoni di Asia. Meski demikian, hubungan ekonomi yang kuat antara Cina dan Jepang seharusnya dapat menjadi penengah yang ampuh bagi kedua negara ini agar tak mudah mencetuskan api perselisihan. Volume perdagangan bilateral sejumlah $300 M itu tak boleh disia-siakan begitu saja karena sejatinya, kedua negara ini terlibat simbiosis mutualisme. Cina membutuhkan teknologi yang banyak dilahirkan oleh pabrikan Jepang, sementara Jepang sendiri membutuhkan Cina besarnya wilayah Cina untuk memasarkan produknya.

Adu Domba Paman Sam
Tentu, Washington menyadari betul bahwa apabila Cina dan Jepang bersatu, maka akan terbentuklah suatu mahadaya ekonomi dunia. Oleh karena itu, para analis mengatakan bahwa kedua belah pihak harus pandai-pandai mengawasi reaksi Washington yang turut andil dalam konflik kedua negara ini dengan memposisikan diri sebagai polisi dunia. Menurut Rutledge, salah seorang penasihat ekonomi di Beijing, risiko terbesar adalah Cina akan tumbuh dari sangat kecil menjadi sangat besar, sedangkan AS kemungkinan akan menyusut, dari sosok yang sangat besar menjadi sangat kecil. Untuk itulah, demi perekonomian yang utuh, Cina dan Jepang harus mewasapadai peran AS dalam hal ini.     
   

154629

SFN merupakan hasil kerjasama beberapa personel tim Seputarforex untuk mengulas berita-berita terkini di bidang forex maupun saham.


24 Sep 2019