Advertisement

iklan

Isu Perang Dagang Menenggelamkan Dolar AS

Penulis

+ -

Kekhawatiran mengenai perang dagang melemahkan Dolar AS, setelah Uni Eropa menyatakan siap membalas penerapan bea impor logam oleh Amerika Serikat.

iklan

iklan

Seputarforex.com - Di awal sesi Asia hari Senin ini (5/Maret), Indeks Dolar AS masih terpaku di kisaran 89.91, level terendah sepekan tempatnya terdampar setelah ditumbangkan oleh pengumuman Presiden Donald Trump mengenai bea impor logam minggu lalu. Kekhawatiran mengenai perang dagang makin memuncak setelah pejabat tinggi Uni Eropa menyatakan siap membalas dengan menerapkan bea impor 25 persen atas semua barang produksi Amerika Serikat yang didatangkan ke kawasannya.

 

Perang Dagang

 

 

Bea Impor Atas Semua Komoditas AS

Pada hari Jumat malam, sejumlah pejabat tinggi Uni Eropa berjanji akan bereaksi keras dengan menerapkan kebijakan balasan bagi berbagai produk impor dari AS, apabila Trump bersikeras mematok bea impor setinggi 25% atas besi dan 10% atas aluminium. Dalam sebuah program televisi Jerman, pimpinan European Commission, Jean-Claude Juncker, mengatakan, "Kami akan menetapkan bea impor atas Harley-Davidson, atas bourbon, dan atas jeans - Levi's."

Senada dengan Juncker, Menteri Ekonomi Prancis, Bruno Le Maire, menyatakan akan ada sebuah "respon kompak, terkoordinasi, dan kuat dari Uni Eropa".

Sehari sebelumnya, Menteri Luar Negeri Kanada, Chrystia Freeland juga menyampaikan negaranya akan membalas jika AS mematok tarif atas produk besi dan aluminium. Dengan tanggapan tegas dari kedua wilayah penting ini, pasar sekarang memantau tindakan apa yang akan diambil oleh China sebagai negara produsen besi terbesar dunia, serta negara-negara eksportir besi lainnya yang memiliki hubungan dagang erat dengan AS.


Impor Besi Ke AS Berdasarkan Negara Asal

 

 

Perang Dagang AS - Uni Eropa

Perang dagang antara AS-Uni Eropa bukannya tanpa preseden. Pada tahun 2012 lampau, Presiden AS George W. Bush menerapkan bea impor 8-30% atas besi, jauh di atas bea impor wajar atas besi sebesar 0-1%.

Saat itu, Uni Eropa seketika mengumumkan aplikasi bea impor balasan atas semua barang yang didatangkan dari AS. Koalisi negara-negara lain seperti Jepang, China, Korsel, dll bersama-sama mengajukan petisi ke World Trade Organization (WTO). Pada akhirnya, WTO menyatakan AS melanggar perjanjian dagang internasional, sehingga harus membayar denda dan mencabut peraturan tersebut.

Berdasarkan sejumlah studi akademisi, penerapan bea impor besi di AS pada tahun 2012 telah berdampak negatif bagi GDP dan ketenagakerjaan, meskipun imbasnya terbatas. Selain itu, menurut estimasi perusahaan investasi TD Securities, penetapan bea impor pada masa itu berakibat pada penurunan Dolar AS hingga 15%.

 

Ancaman Depresiasi Dolar Dan Capital Flight

"Amerika Serikat sekarang berada pada posisi rawan, karena menempatkan risiko pada aset-aset (berharga) AS dengan merilis bea impor dan menempuh jalur kebijakan proteksionis ini, yang mana negatif bagi pertumbuhan," kata Mark McCormick dari TD Securities. Ia juga mengungkapkan, "Pada dasarnya, negara-negara (yang akan menjadi rival AS) dalam perang dagang -sesungguhnya Anda mengusik China dan Eropa-, adalah negara-negara yang akan mendanai defisit anggaran Anda."

Dampak dari penerapan bea impor logam oleh Trump bisa lebih buruk dibanding masa Bush, karena dinamika ekonomi global telah berubah dalam 5-6 tahun belakangan. AS masih merupakan negara dengan ekonomi terbesar di dunia, tetapi statusnya adalah debitor netto (utang pada negara lain lebih besar dibanding piutang). Sekitar 60 persen dari defisit anggaran AS telah dibiayai oleh entitas asing; dan lebih dari itu, Trump berencana mendanai pemangkasan pajak dan berbagai program lain dengan memperbesar defisit tersebut. Di sisi lain, China, Jepang, dan Eropa, merupakan kreditor netto dengan kepemilikan obligasi AS cukup tinggi .

Oleh karena itu, risiko terbesar bagi Dolar saat ini, menurut para analis yang diwawancarai Reuters, berasal dari kemungkinan eksodus dana-dana investasi dari Amerika Serikat (capital flight). Apabila sentimen risiko memburuk secara signifikan, maka pertaruhan atas ekonomi AS akan lebih berisiko ketimbang investasi di negara-negara berkembang, meskipun Dolar AS juga punya peran sebagai aset Safe Haven.

282657
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.