Advertisement

iklan

Kenaikan Produksi AS Nistakan Upaya OPEC Dongkrak Harga Minyak

Laju produksi minyak AS kini secara keseluruhan mencapai 9.5 juta bph, level tertingginya sejak Juli 2015.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak kembali terpuruk pada penghujung perdagangan hari Rabu lalu, meski sebelumnya sempat merangkak naik menyusul laporan bahwa oil inventories di Amerika Serikat mengalami penurunan. Pasalnya, di saat bersamaan merebak kabar bahwa produksi minyak AS lagi-lagi mencetak rekor tinggi.

Kenaikan Produksi AS

Saat berita ditulis hari Kamis pagi ini (17/Agustus), harga minyak Brent yang menjadi acuan internasional berada pada harga $50.47, atau hanya naik 20 sen, setelah tadi malam melorot lebih dari 40 sen. Sementara West Texas Intermediate (WTI) masih tertahan di $46.89, setelah anjlok 77 sen ke $46.78 per barel semalam.

 

Produksi Minyak AS Tertinggi Sejak Juli 2015

Data oil inventories yang dirilis oleh Energy Information Administration (EIA) menunjukkan penurunan persediaan minyak mentah komersil AS berada pada 466.5 juta barel, atau telah berkurang 13% dari level tinggi yang dicapai pada bulan Maret.

"Jika penurunan persediaan terus berlanjut dalam laju seperti sekarang, maka stok akan turun kembali ke bawah rerata lima tahunan dalam waktu sekitar dua bulan (mendatang)," ujar William O'Loughlin, Analis Investasi di Rivkin Securities, sebagaimana disampaikannya pada Reuters.

Seharusnya, itu menjadi kabar baik yang mendukung kenaikan harga minyak dalam jangka pendek. Akan tetapi, ANZ Bank mengatakan, pasar sepertinya "berfokus pada kenaikan produksi (minyak AS)", yang pekan lalu mengalami kenaikan sebanyak 79,000 barel per hari (bph). Dengan demikian, laju produksi minyak AS kini secara keseluruhan mencapai 9.5 juta bph, level tertingginya sejak Juli 2015.

 

Sulit Seimbangkan Pasar

Sejumlah pelaku pasar menyatakan bahwa kenaikan output minyak AS mengikis efek upaya negara-negara OPEC bersama segelintir produsen minyak lainnya untuk membatasi produksi mereka.

AS dan negara-negara produsen minyak yang tak ikut berpartisipasi dalam kesepakatan pemangkasan output, merasa leluasa untuk menggenjot output sembari merangsek pangsa pasar baru, meski permintaan minyak dari Asia menunjukkan perlambatan. Sementara diantara negara-negara peserta kesepakatan pun, tingkat kepatuhan cukup longgar.

Dalam kesepakatan pemangkasan output yang telah dimulai Januari 2017 lampau dan rencananya akan terus berlanjut hingga Maret 2018, negara-negara tersebut telah menjanjikan akan mengurangi output sebanyak 1.8 juta bph, dengan tujuan untuk menyeimbangkan supply-demand di pasar sekaligus mendongkrak harga. Namun, harga minyak Brent justru turun nyaris 12 persen sejak Januari. Realita pahit ini telah memakan banyak korban, termasuk tutupnya sejumlah Hedge Fund top dunia.

279931

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.