Ketua IMF Akan Gantikan Mario Draghi Jadi Presiden ECB

Secara mengejutkan, Ketua IMF Christine Lagarde terpilih menggantikan Mario Draghi untuk menjabat sebagai Presiden ECB mulai tanggal 1 November. Bagaimana proyeksi kebijakannya kelak?

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Masa jabatan Mario Draghi sebagai Presiden ECB (European Central Bank) akan berakhir di penghujung bulan Oktober 2019. Ini bukan rahasia lagi dan sama sekali bukan kejutan. Namun, yang mengejutkan adalah terpilihnya Ketua IMF (International Monetary Fund) Christine Lagarde untuk menggantikan Draghi, di tengah sengitnya rebutan posisi top Zona Euro pasca Pemilu Parlemen Mei 2019. Selusin tantangan telah menantikannya, dan pelaku pasar mulai memperhitungkan bagaimana arah kebijakannya kelak untuk menjawab tantangan-tantangan itu.

Christine Lagarde

Jika dilantik sesuai rencana, maka pengganti Draghi akan menduduki jabatan Presiden ECB mulai tanggal 1 November, tepat sehari setelah deadline brexit. Artinya, ia berisiko menghadapi krisis yang mungkin timbul jika Perdana Menteri Inggris saat itu bersikeras menarik negaranya keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan apapun (No-Deal Brexit). Padahal, kondisi ekonomi Zona Euro saat ini jauh dari memuaskan, dengan proyeksi pertumbuhan GDP tahun 2019 kemungkinan hanya mencapai 1.2 persen. Beban defisit anggaran Italia juga terancam memicu krisis utang baru.

Boleh jadi, beragam risiko inilah yang melatarbelakangi nominasi Christine Lagarde untuk menjadi pengganti Mario Draghi. Lagarde sudah berpengalaman menangani beberapa kali krisis berskala global. Ia adalah menteri keuangan Prancis (2007-2011) saat era krisis finansial global. Ia juga mengepalai IMF saat organisasi itu mengorganisir bailout bagi Argentina dan Yunani.

Selain itu, pelaku pasar keuangan umumnya menilai Lagarde berhaluan dovish, sehingga ia kemungkinan tidak akan membuat perubahan radikal terhadap arah kebijakan yang telah digariskan Draghi. Sebagian besar analis menilai ia bakal mempertahankan suku bunga rendah dan program pembelian obligasi, kalau bukan malah kian melonggarkan kebijakan moneter ECB jika kondisi ekonomi Zona Euro kian mengenaskan.

Stabilitas kebijakan semacam ini meredam kemungkinan terjadinya gejolak, tetapi belum tentu bullish bagi nilai tukar mata uang. Di satu sisi, investor di pasar modal akan senang karena lebih banyak suntikan dana segar. Di sisi lain, secara teoritis, ekspansi kebijakan moneter super-longgar merupakan berita yang bersifat bearish bagi outlook jangka panjang Euro karena meningkatnya jumlah uang beredar.

289094

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.