OctaFx

iklan

Konflik Geopolitik Dorong Harga Minyak Ke Tertinggi Lima Pekan

Harga minyak Brent telah meningkat selama tujuh sesi berturut-turut, sedangkan WTI menanjak enam hari berurutan.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak (crude oil) menanjak ke level tertinggi dalam lima pekan dan akhirnya tembus ambang $56 pada sesi perdagangan Selasa pagi ini (11/4) menyusul makin menguatnya ketegangan pasca serangan Amerika Serikat atas Suriah dan kembali ditutupnya ladang minyak terbesar di Libya.

Ladang Minyak Libya - ilustrasi

 

Sharara Diblokade Lagi

Harga minyak acuan internasional, Brent, menyentuh level tertingginya sejak 7 Maret pada angka $56.16 per barel. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) sempat menyentuh harga termahal dalam lima pekan terakhir di $53.23 per barel pada awal sesi dan kini diperdagangkan di sekitar $53.10. Brent telah meningkat selama tujuh sesi berturut-turut, sedangkan WTI menanjak enam hari berurutan.

Pada Senin sore waktu Indonesia Barat, beredar info bahwa ladang minyak Sharara yang terbesar di Libya lagi-lagi dinyatakan tutup akibat force majeure. Rupanya, sebuah kelompok telah memblokir pipa saluran minyak yang menghubungkan ladang tersebut dengan sebuah terminal utama. Padahal, ladang minyak Sharara baru saja kembali berproduksi setelah sempat mengalami blokade oleh protes bersenjata di awal April.

 

Rusia Kirim Kapal Perang

Kabar tersebut makin mendorong reli harga minyak yang dimulai setelah AS meluncurkan misil ke pangkalan udara milik pemerintah Suriah pada akhir pekan lalu. Rusia, yang dikenal sebagai pendukung terkuat Presiden Bashar Al Assad, mengecam tindakan AS sebagai agresi atas pemerintah Suriah yang berdaulat. Ketegangan makin berlanjut hingga hari ini dengan munculnya kabar bahwa Rusia mengirim lebih banyak kapal perang ke laut Mediterania, mendekati wilayah perairan Suriah.

Suriah bukan termasuk produsen minyak mayor, dengan output hanya mencakup 0.5% dari total produksi global di tahun 2010. Namun, Timur Tengah memiliki kontribusi lebih dari seperempat output minyak global.

Di sisi lain, peningkatan jumlah sumur pengeboran aktif di Amerika Serikat telah mendorong kenaikan inventori minyak kembali ke rekor tinggi. Akan tetapi, pasar juga tengah mengantisipasi pertambahan permintaan bahan bakar seiring dengan dimulainya musim panas di negeri Paman Sam.

278457

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.