Advertisement

iklan

Konflik Ukraina Berpotensi Mengubah Outlook Pasar Forex dan Komoditas (UPDATE!)

Penulis

+ -

Konflik Ukraina telah memicu pelarian dana besar-besaran ke Safe Haven seperti Yen, Swiss Franc, Emas, dan Dollar. Hingga pagi ini, Rusia masih ngotot menginvasi Ukraina. Akibatnya, investor di pasar finansial panik. CNN dan New York Times (4/3) telah memberitakan tumbangnya pasar-pasar saham Dunia dan terancamnya harga komoditas energi dan pangan seiring dengan meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut. Padahal Ukraina hanya sebuah negara kecil di pojok Eropa, kenapa dampaknya bisa sedemikian besar?

iklan

iklan

Konflik Ukraina telah memicu pelarian dana besar-besaran ke Safe Haven seperti Yen, Swiss Franc, Emas, dan Dollar. Hingga pagi ini, Rusia masih ngotot menginvasi Ukraina, dan pemimpin-pemimpin Barat belum memutuskan tindakan tegas guna melindungi Ukraina yang berada diambang perang. Akibatnya, investor di pasar finansial panik. CNN dan New York Times (4/3) telah memberitakan tumbangnya pasar-pasar saham Dunia dan terancamnya harga komoditas energi dan pangan seiring dengan meningkatnya ketegangan di wilayah tersebut. Padahal Ukraina hanya sebuah negara kecil di pojok Eropa, kenapa dampaknya bisa sedemikian besar?  

It's All About Energy
Secara historis, Ukraina merupakan penghubung penting antara Eropa dan Rusia. Pada perang Krimea tahun 1853-1856, Perancis, Inggris, dan Sardinia (sekarang Italia) bahkan rela bersekutu dengan kekaisaran Utsmani dari Turki untuk mencegah Rusia memperluas pengaruh di wilayah itu. Perang yang berakhir dengan kekalahan Rusia tersebut merubah keseimbangan politik-ekonomi di wilayah itu hingga menjelang pembentukan Uni Soviet pada 1922 dimana Moskow meraih kontrol atas negara-negara disekitarnya, termasuk Ukraina. Setelah Uni Soviet dibubarkan pada 1991, Rusia masih enggan melepaskan cengkeramannya, karena dua alasan utama: posisi geografis Ukraina yang strategis dan kekayaan alam yang luar biasa.  
peta ukrainaUkraina adalah salah satu negara kecil yang diberkahi dengan kekayaan alam baik dari pertanian maupun tambang, khususnya Gandum dan Gas. Ukraina termasuk negara utama penghasil Gandum, sehingga harga Gandum di pasar komoditas pun melonjak 5% kemarin (3/3). Selain itu, wilayah Rusia, Ukraina, dan sekitarnya menyimpan lebih dari seperempat persediaan gas Dunia. Suplai energi Eropa, termasuk Jerman, bersandar pada daerah ini. Akibatnya, Rusia memiliki posisi tawar tinggi dengan kemampuannya untuk memutus suplai gas kapanpun terjadi konflik.

Kekhawatiran akan pemutusan suplai inilah yang mendorong kenaikan harga minyak dan gas kemarin. Harga Gas Bumi naik 2% dan Minyak Mentah Brent bahkan naik lebih dari itu. Apalagi, Ukraina termasuk jalur suplai gas dari Rusia ke Eropa, yang mana suplai gas tentu akan terganggu selama masih terjadi gejolak. Negara-negara yang mengimpor Gas dari Rusia buru-buru menghitung persediaan gasnya, yang ternyata hanya akan bertahan 2-3 bulan kedepan.
   
Tekanan Pada Euro, Dorongan Bagi Safe Haven
Dalam situasi saat ini, tak heran kalau Euro terus mengalami kemerosotan. Rubel Rusia sudah jatuh duluan, berada pada level terendah terhadap USD dan EUR, walau bank sentral telah menaikkan suku bunganya. Tetapi dengan besarnya hubungan ekspor-impor kedua wilayah, Eropa praktis makan buah simalakama, maju salah, mundur pun salah. Sanksi ekonomi yang sekarang sedang banyak didiskusikan, bisa jadi justru akan melukai Eropa (selain impor gas Rusia dan gandum Ukraina, Eropa juga ekspor banyak barang ke Rusia). Disisi lain, jika Rusia dibiarkan saja, maka pengaruh politik Eropa di wilayah tersebut akan anjlok, dan ketergantungannya pada Rusia makin tinggi karena Rusia akan menguasai Ukraina juga. Outlook Euro yang menunjukkan perdagangan risiko tinggi kian mantap.

Daerah lain yang tidak berbatasan tapi bisa ikut terseret Ukraina adalah negara-negara berkembang. Konflik Ukraina pecah di masa yang tidak baik bagi negara berkembang. Dengan sendirinya, konflik ini menambah risiko investasi dan meningkatkan sentimen risk avoidance investor. Daripada berurusan dengan negara-negara risiko tinggi, lebih baik cari aman di safe haven.  

Hasilnya, investor berebut JPY, CHF, Emas, dan USD. JPY mengalami reli terhadap EUR dan USD, dan baru terhenti setelah rilis data upah Jepang bulan Januari terbukti mengecewakan. Sedangkan XAU/USD melonjak ke level tertinggi sejak November 2013. Tak bisa dipungkiri, konflik Ukraina telah merubah outlook pergerakan pasar tahun ini. JPY yang sebelumnya diragukan kekuatannya tiba-tiba berubah perkasa. CHF yang biasa ikut arus pun mendadak jadi kokoh. Tren harga emas yang merosot juga ikut berbalik seketika. Semakin gawat kondisi di Ukraina, semakin terdongkraklah aset-aset pelindung nilai ini. Selain itu, sementara belum ada perubahan signifikan dalam upaya damai, maka aksi profit-taking akan merajalela, meningkatkan volatilitas dan risiko trading di pasar finansial.

UPDATE:
#2014/3/4 13.20 WIB: Ada rumor Putin memerintahkan penarikan pasukan dari Krimea, memicu penguatan Euro dan pelemahan Yen di pair major dan cross. Kami masih mencari konfirmasi lebih lanjut.
#2014/3/4 13.42 WIB: Media massa Rusia mengutip juru bicara kepresidenan Rusia, Dmitry Peskov, bahwa Putin telah menarik tentara yang sedang berada di perbatasan Krimea-Rusia untuk kembali ke markas. Masih belum jelas apakah Rusia batal menginvasi Krimea, ataukah ini persiapan untuk aksi militer sungguhan. Jangan lupa amati jadwal fundamental, karena akan selalu ada rilis penting yang bisa menginterupsi reli mata uang.

#2014/3/4 14.18 WIB: Tentara Rusia yang ditarik hanya tentara yang sedang "latihan" di perbatasan, sementara di Ukraina (Krimea) masih ada sekitar 16.000 tentara. Rusia juga belum menyampaikan respon pada himbauan dunia untuk mundur sepenuhnya dari Ukraina. Gold dan JPY sempat jatuh drastis, tetapi lajunya sementara terhenti. Singkat kata, pasar masih wait and see. Sejumlah analis memperkirakan dampak Ukraina di pasar finansial hanya sementara (investor panik), tetapi sebagian yang lain menyebutkan Rusia tidak akan mau melepaskan Ukraina dari genggamannya.

#2014/3/5 09.25 WIB: Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan dalam konferensi pers kemarin, bahwa ia belum melihat perlunya menggunakan kekuatan militer di Krimea untuk saat ini. Investor mulai melepaskan safe haven, sehingga Yen dan Gold mengalami pelemahan, dan Euro kembali menguat. Namun sebagian investor masih was-was, apalagi ECB diperkirakan akan mengambil langkah dovish hari Kamis besok.

163462

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.