Kuroda BoJ: Jepang Tak Berencana Tambah Stimulus Bulan Depan

Meski menyatakan tak punya rencana menambah stimulus, Haruhiko Kuroda memaparkan beberapa faktor yang akan memengaruhi kebijakan BoJ ke depan.

Xm

iklan

Advertisement

iklan

Sejumlah bank sentral terkemuka diharapkan melonggarkan kebijakan moneter mereka, seiring dengan semakin santernya pemangkasan suku bunga Federal Reserve. Salah satunya, bank sentral Jepang (Bank of Japan/BoJ). Namun, Gubernur BoJ Haruhiko Kuroda agaknya masih merasa nyaman mempertahankan kebijakan moneter saat ini.

Saat ini, BoJ mempertahankan suku bunga pada level -0.1 persen dan target yield obligasi pemerintah Jepang bertenor 10-tahunan sekitar 0 persen. BoJ juga melaksanakan program pembelian aset dengan laju sekitar 80 Triliun Yen per tahun.

Dalam sebuah pidato di Osaka hari ini (24/September), Gubernur Haruhiko Kuroda mengatakan BoJ tak memiliki rencana untuk memperluas stimulus moneter tersebut dalam rapat kebijakan bulan depan. Ia mengisyaratkan bahwa kebijakan selanjutnya akan tergantung pada perubahan pasar dan ketangguhan perekonomian Jepang dalam menghadapi risiko ekonomi dari luar negeri.

Haruhiko Kuroda

Kuroda mengatakan bahwa BoJ akan terus mencari cara agar kebijakan Yield Curve Control (YCC) saat ini semakin berkelanjutan. Masalahnya, suku bunga super rendah berpotensi semakin menekan marjin keuntungan lembaga-lembaga keuangan dan malah membuat mereka semakin enggan meyalurkan pinjaman.

"Apabila kondisi suku bunga rendah saat ini diperpanjang lagi, maka akan menjadi perlu untuk memerhatikan dampak kebijakan kami secara lebih cermat," ujar Kuroda, "Oleh karena itu, tantangan penting yang terus kami hadapi adalah untuk memikirkan apa saja yang diperlukan untuk meningkatkan keberlanjutan kebijakan kami."

Terlepas dari risiko suku bunga rendah berkepanjangan, Haruhiko Kuroda menegaskan BoJ tetap siap menambah stimulus apabila perekonomian terbukti telah kehilangan momentum pertumbuhan. Untuk menentukan arah kebijakan ke depan, BoJ akan menilik apakah permintaan (demand) melampaui penawaran (supply), seberapa besar minat perusahaan-perusahaan untuk menaikkan gaji karyawan dan harga produk mereka, serta perkembangan ekspektasi inflasi.

"Seiring dengan meningkatnya risiko terkait perekonomian luar negeri, kami harus semakin waspada terhadap kemungkinan dampak perlambatan ekonomi mancanegara terhadap perekonomian dan inflasi Jepang," kata Kuroda.

Secara keseluruhan, Kuroda hanya menegaskan kembali pokok-pokok kebijakan yang diutarakan dalam pernyataan resmi BoJ pasca rapat bulan ini. Pidatonya hampir tak dihiraukan sama sekali oleh pelaku pasar. Sejak pembukaan sesi Asia hingga awal sesi Eropa hari ini, USD/JPY bergerak dalam kisaran sempit antara 107.47-107.68.

290230

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.