Laju GDP China Q1/2019 Lonjakkan Nilai Dolar Australia Dkk

Dolar Australia, Kanada, dan New Zealand, mengalami penguatan seusai rilis data GDP China Kuartal I/2019 yang mengungguli ekspektasi.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Berbagai mata uang komoditas mengalami penguatan pada awal sesi Eropa (17/April), karena rilis data Gross Domestic Product (GDP) China yang mengungguli ekspektasi. Dolar Australia meroket pesat sekitar 0.4 persen hingga mencapai level 0.7205 terhadap Dolar AS; rekor tertingginya sejak akhir Februari. USD/CAD terkoreksi 0.2 persen ke kisaran 1.3325. Data GDP tersebut juga membantu pasangan mata uang NZD/USD untuk menanggulangi kemerosotan yang dideritanya pasca rilis CPI New Zealand.

AUDUSD Daily

Laporan pemerintah China menampilkan pertumbuhan GDP setinggi 1.4 persen (Quarter-over-Quarter) dalam triwulan pertama tahun ini, atau 6.4 persen (Year-on-Year). Rekor tersebut lebih baik dibandingkan estimasi konsensus yang memperkirakan laju GDP tahunan hanya mencapai 6.3 persen.

Data produksi industri China juga dikabarkan meraih kenaikan pesat 8.5 persen (Year-on-Year) dalam bulan Maret, versus ekspektasi 5.6 persen. Prospek pemulihan ekonomi di negeri konsumen komoditi terbesar dunia tersebut spontan melonjakkan nilai comdoll dan aset-aset berisiko lebih tinggi lainnya.

"Posisi short bagi Aussie baru saja menumpuk kemarin karena (sikap) RBA yang dovish, dan kini tampaknya mereka berbalik buru-buru karena data China," kata Yukio Ishizuki, pakar strategi forex senior Daiwa Securities, kepada Reuters.

Lanjutnya, "Meskipun RBA terdengar dovish, sebenarnya pemangkasan suku bunga bukanlah opsi yang realistis untuk saat ini. Hal ini, ditambah dengan harga bijih besi yang lebih tinggi, bisa mendorong Aussie menguat dalam jangka panjang."

Baik New Zealand, Australia, maupun Kanada, merupakan negara-negara kaya sumber daya alam yang berbasis ekspor. Pertumbuhannya bisa melambat, jika prospek pertumbuhan ekonomi China lesu hingga mengakibatkan berkurangnya permintaan atas komoditi mereka. Sebaliknya, perbaikan ekonomi di negeri Panda berpotensi mendongkrak permintaan komoditi pula, sehingga outlook pertumbuhan menjadi lebih optimis. Meski demikian, pelaku pasar tetap akan memperhitungkan pula stabilitas ekonomi domestik serta rencana kebijakan suku bunga yang dirancang oleh bank sentral masing-masing negara dalam menentukan arah pergerakan mata uang selanjutnya.

288166

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.