Menkeu Aso: Jepang Pantau Fluktuasi Mata Uang Secara Urgen

Menteri Keuangan Jepang Taro Aso agaknya khawatir kalau gejolak Yen di pasar mata uang bakal menggerogoti daya saing di pasar internasional.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Yen Jepang mengalami penguatan signifikan sejak awal tahun ini, seiring dengan meningkatnya minat beli safe haven di tengah eskalasi konflik dagang AS-China dan beragam ketidakpastian politik lain. Meskipun otoritas Jepang telah menahan diri untuk tidak melakukan intervensi secara langsung, tetapi situasi ini agaknya menimbulkan kecemasan tersendiri. Kekhawatiran tersebut diekspresikan oleh Menteri Keuangan Jepang, Taro Aso, dalam sebuah konferensi pers reguler hari ini (27/Agustus).

Menteri Keuangan Taro Aso

Taro Aso mengatakan bahwa pihaknya memantau pergerakan mata uang "secara urgen" setelah lonjakan Yen baru-baru ini -kemungkinan merujuk kepada volatilitas tinggi yang dialami pasar mata uang akibat eskalasi konflik AS-China di awal pekan. Meski menolak untuk menjelaskan level tertentu yang dijadikan patokan, tetapi Aso menggarisbawahi pentingnya stabilitas mata uang Yen.

"Stabilitas mata uang itu penting. Kita harus mengamati pergerakan pasar mata uang dengan cermat secara urgen," kata Aso. Meski demikian, ia menegaskan bahwa volatilitas pasar uang tidak akan mengubah niat pemerintah Jepang untuk menaikkan pajak penjualan dari 8 persen menjadi 10 persen pada bulan Oktober mendatang.

Jepang termasuk salah satu negara dengan perekonomian berbasis ekspor. Penguatan dan gejolak nilai tukar mata uangnya akan mengakibatkan penurunan daya saing produk asal Jepang di pasar internasional, sehingga para pejabat Jepang cenderung lebih menyukai nilai tukar lemah dan stabil. Menurut Reuters, Jepang terakhir kali melakukan intervensi mata uang untuk menanggulangi penguatan Yen secara berlebihan versus Dolar pasca krisis nuklir Fukushima pada tahun 2011.

Sementara itu, Yen masih menjadi pilihan safe haven utama pelaku pasar mata uang, di samping obligasi. Volatilitas mata uang safe haven lainnya, Franc Swiss, cenderung lebih terkendali sehubungan dengan ikrar otoritas moneter Swiss untuk melakukan intervensi jika nilainya terus-menerus menguat.

289828

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


24 Sep 2019