Advertisement

iklan

Minyak Melonjak 5 Persen Setelah Isu Omicron Surut

Penulis

+ -

Harga minyak rebound berkat pemulihan sentimen risiko. Varian Omicron dikabarkan tidak berbahaya, sehingga kemungkinan tidak akan berdampak besar terhadap ekonomi global.

iklan

iklan

Seputarforex - Harga minyak mentah naik lebih dari 5 persen pada perdagangan kemarin, ditunjang oleh pulihnya sentimen pasar atas kabar positif mengenai dampak varian Omicron. Pada saat berita ini ditulis, minyak Brent terkoreksi tipis pada kisaran $74.13 per barel, sementara minyak WTI (West Texas Intermediate) bertendensi melanjutkan kenaikan dari level saat ini di $70.40 per barel.

Harga minyak melonjak

Laporan terbaru dari otoritas Afrika Selatan mengatakan bahwa penderita COVID Omicron hanya bergejala ringan. Hal ini mengonfirmasi pernyataan pejabat tinggi kesehatan AS, Anthony Fauci, yang mengatakan belum menemukan laporan gejala parah atas infeksi varian Omicron di AS.

Gedung Putih mengatakan jika mereka akan meninjau kembali larangan penerbangan dari 8 negara Afrika termasuk Afrika Selatan dalam waktu dekat. Langkah ini diambil sehubungan dengan semakin meredanya kekhawatiran terhadap dampak COVID Omicron.

"Semua berita utama saat ini cenderung bullish dan momentum harga minyak tampak kembali cerah," kata Phil Flynn, analis senior di Price Futures Group. Apabila momentum kenaikan harga minyak di awal pekan dapat bertahan, maka jalur penguatan mingguan akan terbentuk setelah pergerakan bearish selama 4 pekan berturut-turut.

 

Bullish Minyak Turut Didukung 2 Faktor Ini

Selain berita terkait dampak Omicron, kenaikan harga minyak pada sesi kemarin tidak terlepas dari keputusan Arab Saudi untuk kembali menaikkan harga jual bagi pengiriman minyak Januari 2022 ke kawasan Asia dan Amerika. Disamping itu, Menteri Perminyakan Irak, Ihsan Abdul Jabbar, memperkirakan harga minyak akan mencapai lebih dari $75 per barel dalam waktu dekat.

Tersendatnya perkembangan perundingan AS-Iran terkait perjanjian nuklir juga mendukung outlook kenaikan minyak saat ini. Jika perjanjian nuklir gagal, maka prospek kenaikan ekspor minyak Iran akan menyusut. Perlu diketahui, Iran selama ini dikenai sanksi larangan menjual minyak ke luar negeri oleh AS dan sekutu. Hal tersebut dilakukan untuk menekan Iran agar tunduk terhadap perjanjian nuklir 2015.

Download Seputarforex App

296920
Penulis

Pandawa punya minat besar terhadap dunia kepenulisan dan sejak tahun 2010 aktif mengikuti perkembangan ekonomi dunia. Penulis juga seorang Trader Forex yang berpengalaman lebih dari 5 tahun dan hingga kini terus belajar untuk menjadi lebih baik.