Advertisement

iklan

Nantikan FOMC, Harga Minyak Terperosok Ke Terendah Tiga Bulan

Perusahaan energi AS meningkatkan belanja anggarannya guna memanfaatkan momentum selagi OPEC dan produsen minyak lainnya memangkas output.

Xm

iklan

FirewoodFX

iklan

Seputarforex.com - Harga minyak anjlok ke level terendahnya dalam tiga bulan terakhir, setelah data sumur pengeboran (oil drilling rigs) di Amerika Serikat dilaporkan terus bertambah. Dini hari tadi (13/3), harga minyak Brent telah anjlok 0.8 persen ke kisaran $50.98 per barel, terendah sejak 30 November 2016, padahal sudah anjlok 1.6% di sesi perdagangan sebelumnya. Sementara West Texas Intermediate (WTI) melorot 0.9% ke $48.04 per barel, juga rekor terendah sejak November.

 Harga Minyak Anjlok

 

Bisa Jadi Harga Tetap Tertekan Hari Ini 

Menjelang akhir pekan lalu, Baker Hughes mengumumkan bahwa para pengebor minyak di negeri Paman Sam menaikkan jumlah rigs untuk pekan kedelapan beruntun.

Tepatnya, jumlah total sumur pengeboran naik dari 609 menjadi 617 dalam sepekan sebelumnya. Perusahaan-perusahaan energi AS tengah meningkatkan belanja anggarannya guna memanfaatkan momentum pemulihan harga selagi negara-negara anggota OPEC dan produsen minyak lainnya memangkas output.

Sebagaimana diketahui, OPEC dan sejumlah negara produsen minyak lainnya telah menyetujui sebuah kesepakatan bersejarah tahun lalu, dimana mereka semua menyanggupi total pengurangan output sebesar 1.8 juta barel per hari (bph) pada paruh pertama 2017.

Per bulan Januari, pelaksanaan kesepakatan tersebut baru sekitar 90 persen saja. Di sisi lain, produksi dan inventori minyak mentah AS terus meningkat. Akibatnya, merebak keraguan akan kemungkinan tercapainya keseimbangan kembali supply dan demand di pasar minyak global yang ditargetkan oleh OPEC.

"Dengan pasar masih berupaya mencerna kenaikan inventori (minyak mentah AS), harga minyak bisa jadi tetap tertekan hari ini," catat ANZ Bank dalam sebuah nota yang dikutip oleh Reuters.

 

Kuncinya Pada Kenaikan Suku Bunga AS

Data dari US Commodity Futures Trading Commission (CFTC) pada akhir pekan lalu menunjukkan bahwa Hedge Funds dan spekulan pasar lainnya telah memangkas posisi Long netto mereka pada kontrak options dan futures minyak mentah.

Michael McCarthy, Pimpinan Pakar Strategi Pasar di CMC Markets Sydney mengatakan, pasar finansial akan didominasi ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS yang diperkirakan diumumkan pada akhir event Federal Open Market Committee (FOMC) antara tanggal 15-16 Maret mendatang. Kenaikan suku bunga yang dikenal dengan istilah FED Rate atau FFR itu berpotensi mendorong penguatan nilai tukar Dolar AS, hal mana dapat mengakibatkan minyak menjadi lebih mahal bagi pengguna mata uang berbeda.

"Sepekan mendatang dipenuhi rilis (laporan) yang berpotensi menentukan pasar," kata McCarthy, "Namun, kunci performa pasar minggu ini adalah respon terhadap kenaikan suku bunga AS."

278018

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.