Notulen Rapat FOMC Desember 2017 Masih Risau Inflasi

Bank sentral AS tetap akan menaikkan suku bunga beberapa kali lagi dalam tahun 2018. Namun, Notulen Rapat FOMC juga mengungkap kekhawatiran tentang inflasi.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Dolar AS melaju pada Rabu malam, tetapi nampak kesulitan mempertahankan posisinya pada perdagangan sesi Asia hari Kamis pagi ini (4/Januari). Notulen Rapat FOMC tanggal 12-13 Desember lalu yang baru saja dirilis, menunjukkan bahwa bank sentral AS (Federal Reserve) tetap akan menaikkan suku bunga beberapa kali lagi dalam tahun 2018. Namun, ada sejumlah kekhawatiran mengenai inflasi di negeri Paman Sam.

FOMC

 

Notulen Masih Mengungkap Hal Yang Sama

Indeks Dolar AS mematahkan kemerosotan yang telah berlangsung selama tiga pekan dengan mencatat kenaikan harian terbesar dalam dua pekan terakhir. Di penghujung perdagangan hari Rabu, indeks tersebut telah naik ke 92.146 dari 91.872 di hari Selasa.

Notulen Rapat FOMC mengakui perbaikan solid di pasar tenaga kerja AS serta ekspansi aktivitas ekonomi, tetapi juga mengkonfirmasi kekhawatiran para pengambil kebijakan mengenai rendahnya laju inflasi. Oleh karena itu, diindikasikan bahwa bank sentral akan terus melanjutkan kenaikan suku bunga secara bertahap, tetapi baru bisa mempercepatnya jika inflasi terakselerasi.

"Yang diperdebatkan masih sama (dengan yang diungkap pada pernyataan pasca Rapat). Ada pertumbuhan kuat dan pengangguran rendah di satu sisi, dan secara mengejutkan di sisi lain ada inflasi rendah," kata Stephen Stanley, Kepala Ekonom di Amherts Pierpoint Securities di Stamford, Connecticut, pada Reuters. Lanjutnya lagi, "Mereka telah mengambil jalan tengah dalam pendekatan kebijakan mereka, secara bertahap menaikkan suku bunga dan mengurangi Neraca Keuangan. Mereka akan melanjutkan taktik yang sama."

Notulen mengungkap pula bahwa para pejabat Federal Reserve telah mendiskusikan kemungkinan pemangkasan pajak yang baru diresmikan Desember lalu, untuk mengakibatkan peningkatan laju inflasi ke depan. Analis mensinyalir, hal inilah yang memicu pasar untuk melakukan aksi beli.

Selain itu, kenaikan Dolar AS kemarin juga berhubungan dengan cerahnya data Belanja Konstruksi dan indeks PMI Manufaktur. Belanja Konstruksi naik 0.8% di bulan November ke level tertinggi sepanjang masa di angka total $1.257 triliun, digerakkan oleh lonjakan investasi pada proyek-proyek perumahan dan non-perumahan swasta. Sedangkan Institute for Supply Management (ISM) melaporkan, Indeks Manufaktur naik ke 59.7 pada bulan Desember; lebih tinggi dari 58.2 di periode sebelumnya dan mengungguli ekspektasi 58.1.

 

Efek Notulen Berumur Pendek

Terlepas dari kabar-kabar tersebut, penguatan Dolar AS pasca rilis Notulen Rapat FOMC berumur pendek. Saat berita ditulis, Indeks Dolar AS sudah tergelincir lagi sebesar 0.07% ke 92.11 menjelang akhir sesi Asia. Pasangan mata uang EUR/USD sudah naik lagi sebesar 0.10% ke 1.2025, dan GBP/USD meningkat 0.08% ke 1.3525. Diantara mata uang mayor, Dolar AS hanya mempertahankan keunggulan versus Yen, dengan USD/JPY naik 0.06% ke 112.56.

Indeks PMI Jasa China bulan Desember menunjukkan iklim bisnis mengalami perbaikan, dengan kenaikan dari 51.9 ke 53.9 yang dilaporkan oleh Markit/Caixin. Publikasi tadi pagi tersebut mendukung AUD/USD terapresiasi 0.19% ke 0.7848, dan NZD/USD meroket 0.34% ke 0.7115. 

Berikutnya, pasar akan berfokus pada data ADP Nonfarm Employment Change yang akan diumumkan nanti malam, serta data Nonfarm Payroll yang dijadwalkan dirilis Jumat malam. Keduanya merupakan data ekonomi dari Amerika Serikat yang biasanya berdampak besar di pasar forex.

281758

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.