Advertisement

iklan

OPEC Umumkan Ekstensi Kuota, Harga Minyak Dihantam Produksi AS

Harga Minyak melonjak ke level tertinggi sejak Juli 2015 pada akhir perdagangan hari Jumat, setelah OPEC mengumumkan ekstensi kesepakatan pemangkasan output.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Harga Minyak melonjak kembali ke level tertinggi sejak Juli 2015 pada akhir perdagangan hari Jumat, setelah OPEC dan sejumlah negara produsen minyak lainnya mengumumkan ekstensi kesepakatan pemangkasan output hingga akhir tahun 2018. Namun demikian, pernyataan tersebut sudah diperkirakan sebelumnya. Harga Minyak pun kembali merosot akibat berbagai kabar dari Amerika Serikat. Kemerosotan berlanjut hingga sesi perdagangan Senin pagi ini (4/Desember), dengan Brent terpantau -0.36% ke $63.51 per barel, dan WTI -0.33% ke kisaran $58.16 per barel.

OPEC Umumkan Ekstensi Kuota, Harga Minyak Dihantam Produksi AS

 

OPEC Setuju Ekstensi, Tapi Bisa Diakhiri Lebih Dini

Harga Minyak Mentah Brent pada hari Jumat sempat melonjak sekitar 1.8% dan ditutup pada $63.73 per barel. Selama sepekan lalu, Brent mencatat kenaikan 0.4%, sedangkan WTI justru melorot 1%. Sepanjang bulan November, Brent tercatat naik 3.5%, sedangkan WTI naik 5.5%.

Negara-negara OPEC, beserta sejumlah negara produsen minyak lainnya yang dipimpin Rusia, menyepakati perpanjangan kesepakatan pemangkasan output sebanyak sembilan bulan, atau hingga akhir tahun 2018. Selain itu, perwakilan negara-negara yang hadir di Wina juga mensinyalkan kemungkinan kesepakatan itu akan diakhiri lebih dini, apabila pasar mengalami "overheating" dan harga Minyak melesat terlalu tinggi.

Pernyataan yang sudah diperkirakan pasar itu disertai pula dengan kesediaan Libya dan Nigeria untuk ikut serta. Kedua negara tersebut sebelumnya dikecualikan karena tengah mengalami banyak konflik bersenjata di dalam negeri masing-masing.

 

Produksi Bulanan AS Dekati Rusia Dan Saudi 

Sebagaimana diketahui, sejak awal tahun ini, negara-negara OPEC, Rusia, serta sembilan negara produsen minyak lainnya, telah setuju membatasi produksi (kuota) dalam rangka memenuhi kesepakatan pemangkasan output sebesar 1.8 juta barel per hari (bph) hingga Maret 2018. Hal itu menjadi katalis yang mendorong reli harga Minyak dalam beberapa bulan terakhir, khususnya karena antisipasi pasar akan rencana pengunduran deadline hingga akhir tahun 2018.

Namun, seusai perpanjangan kuota disepakati pada hari Jumat lalu, pasar justru kembali mengkhawatirkan kemungkinan kalau-kalau kenaikan harga minyak yang diupayakan oleh OPEC bakal ditumpulkan oleh kenaikan output minyak di Amerika Serikat.

Berdasarkan laporan Baker Hughes terbaru, jumlah oil drilling rigs di AS naik lagi sebanyak 2 buah ke angka total 749, tertinggi sejak September 2017. Output Minyak AS domestik telah rebound sebesar nyaris 15% sejak pertengahan 2016, dan terus menerus menanjak karena para produsen minyak AS tertarik oleh kenaikan harga minyak baru-baru ini.

Menurut Reuters, produksi minyak AS bulan September telah menyentuh rekor tinggi 9.5 juta bph, sehingga membawa level output kian mendekati produsen-produsen minyak terbesar, Rusia dan Arab Saudi. Secara historis, output bulanan tertinggi AS sepanjang masa berada pada 9.6 juta bph, terjadi pada bulan April 2015.

281294

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.