Orang Dekat Trump Bantah Rencana Pembatalan Tarif Impor China

Pasar forex lagi-lagi dipingpong oleh rumor terkait kesepakatan dagang AS-China yang simpang siur, khususnya tentang rencana pembatalan tarif impor.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Pasangan mata uang AUD/USD merosot nyaris 0.4 persen ke kisaran 0.6872 pada awal sesi Eropa hari ini (8/November). Kemarin, Aussie sempat dilonjakkan oleh pernyataan Kementerian Perdagangan China bahwa Washington dan Beijing berencana menarik tarif impor yang diterapkan kedua belah pihak segera setelah kesepakatan dagang fase-1 tercapai. Namun, seorang penasehat Gedung Putih menyampaikan bantahan terhadap pernyataan tersebut.

AUDUSD DailyGrafik AUD/USD Daily via Tradingview.com

Penasehat Gedung Putih, Peter Navarro, menepis adanya rencana untuk membatalkan tarif impor terhadap produk-produk China dalam sebuah wawancara di acara TV "Lou Dobbs Tonight". Ia bahkan mengiaskan bahwa pernyataan Kementerian Perdagangan China itu cuma propaganda belaka.

"Tidak ada persetujuan pada saat ini untuk menghapus tarif apapun yang sudah diberlakukan sebagai persyaratan untuk kesepakatan fase pertama," kata Navarro, "Dan satu-satunya orang yang bisa membuat keputusan itu adalah Presiden Donald J. Trump. Sesederhana itu."

Ia menambahkan, "Saya mendengar seseorang bercanda hari ini bahwa negosiasi dengan China belum benar-benar dimulai hingga Anda berjabat tangan (menyetujui) sebuah kesepakatan, dan saya kira itulah yang terjadi sekarang. Atraksi propaganda media China mengeluarkan informasi seperti itu -mereka hanya bernegosiasi di depan publik dan mencoba mendorong kita ke satu arah."

Pernyataan Navarro agak bertentangan dengan sinyalemen Penasehat Gedung Putih lainnya, Larry Kudlow. Pada hari Kamis, Kudlow mengatakan kepada Bloomberg bahwa "Apabila ada kesepakatan dagang fase pertama, maka akan ada konsesi dan persetujuan tentang tarif."

Situasi ini mengisyaratkan terjadinya perpecahan di Washington terkait apakah tarif impor AS terhadap produk-produk China bakal dibatalkan atau tidak. Investor dan trader yang terpengaruh oleh perubahan sentimen pun sontak memangkas aksi beli terhadap aset-aset berisiko seperti Aussie. Sebaliknya, aksi jual terhadap aset-aset safe haven pun mereda.

Lukman Otunuga dari broker FXTM berkomentar, "Walaupun kebanyakan (pelaku pasar) masih optimis secara hati-hati bahwa kesepakatan perdagangan masih berada di ufuk, (tetapi) pesan yang berlawanan dari kedua belah pihak bisa mempersulit keyakinan investor dan meredam sentimen global."

Saat berita ditulis, USD/JPY stabil di level 109.34, dekat puncak tertinggi sejak akhir bulan Mei 2019. Pair XAU/USD masih tertekan di kisaran 1465.40, tetapi laju penurunannya melambat.

290891

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.