Parlemen Inggris Tak Mantap Dukung Brexit, Pound Lesu

Hasil voting Parlemen Inggris tentang brexit kemarin gagal memberikan kepastian bagi trader dan investor, sehingga Poundsterling masih terombang-ambing.

Advertisement

iklan

FirewoodFX

iklan

Poundsterling diperdagangkan dalam kisaran sangat sempit pada sesi Asia hari ini (23/Oktober), sehubungan dengan hasil voting Parlemen Inggris tentang brexit pada sesi New York. Saat berita ditulis, Pound melemah sekitar 0.1 persen di kisaran 1.2865 terhadap Dolar AS, semakin menjauh dari kisaran tertinggi lima bulan yang dicapai pekan lalu. EUR/GBP juga nyaris stagnan di kisaran 0.8642.

GBPUSD DailyGrafik GBP/USD Daily via Tradingview.com

Tadi malam, Westminster mengadakan dua voting terkait rencana keluarnya Inggris dari Uni Eropa (brexit). Dalam voting pertama, para anggota Parlemen Inggris menyetujui rencana brexit yang diajukan oleh PM Boris Johnson dengan perolehan suara 329:299. Namun, mereka menentang percepatan jadwal proses legislasi brexit dalam voting kedua dengan perolehan suara 322:308. Padahal, percepatan proses legislasi diperlukan agar Inggris bisa mengejar deadline brexit tanggal 30 Oktober mendatang.

Pound tak mengalami kemerosotan drastis seusai rilis hasil voting, karena parlemen telah menyetujui rencana brexit ala Johnson. Ini merupakan pertama kalinya parlemen Inggris menyetujui rencana brexit sejak era Theresa May. Namun, Pound juga tak mampu melanjutkan reli, karena situasi masih dibayangi ketidakpastian.

Selanjutnya, pelaku pasar memantau apakah Uni Eropa akan memberikan perpanjangan waktu bagi Inggris untuk mematangkan pengesahan legislasi brexit. Sikap Johnson juga bakal jadi sorotan, karena sebelumnya ia sempat mengancam akan mendesak diselenggarakannya pemilu dini jika jadwalnya tak disetujui parlemen.

"Pound akan mengalami penyesuaian dalam kisaran sempit untuk sementara waktu," kata Junichi Ishikawa, pakar strategi forex senior dari IG Securities, Tokyo. Lanjutnya, "Untuk saat ini, risiko No-Deal Brexit telah berkurang, tetapi masih ada ketidakpastian politik."

"Penundaan brexit sekarang tampaknya menjadi skenario yang paling mungkin terjadi, dan peluang deal jangka pendek telah berkurang sedikit. Penundaan singkat untuk finalisasi deal (brexit) takkan memperburuk pertumbuhan ekonomi dan Pound, terutama jika diikuti dengan (disepakatinya) sebuah deal yang pada akhirnya akan mendorong kenaikan keduanya dengan segera. Apabila itu terjadi, kami memperkirakan Pound akan menanjak dengan cepat," papar Paul Dales dari Capital Economics.

290675

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.