Advertisement

iklan

Pasar Mulai Respon Stimulus Bank-Bank Sentral, Dolar AS Turun

Dolar AS turun karena pasar mulai merespon upaya pelonggaran moneter masif oleh The Fed dan beberapa bank sentral lain.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Dolar AS melemah pada sesi New York hari Selasa (07/April), Saat berita ini ditulis, Indeks Dolar AS (DXY) turun 0.88 persen ke bawah level 100, gagal melanjutkan reli bullish seminggu terakhir. Harga juga terlihat mencapai level terendah yang terakhir kali tercapai pada 26 Maret silam.

dxy

 

Pelonggaran Moneter Bank Sentral Kalemkan Volatilitas

Dalam beberapa minggu terakhir, Dolar AS diperdagangkan secara volatile. Mata uang ini bahkan terus menguat meskipun Non Farm Payroll AS tersungkur ke level negatif. Akan tetapi, upaya pelonggaran moneter The Fed dan beberapa bank sentral lain mulai menunjukkan pengaruh pada pasar.

Bullish Dolar AS menjinak, dan volatilitas tinggi di pasar mulai kalem. Pasar-pasar ekuitas yang sebelumnya "berlumuran darah", kini mulai menggeliat. Saham-saham Eropa bahkan melanjutkan reli dalam dua hari ini.

"Kita sudah mendapatkan penurunan volatilitas yang bagus di pasar forex dan ekuitas. Kita juga mengetahui bahwa bank sentral sudah bagus dalam meredakan penguatan Dolar AS di pasar, dan sudah cukup memberikan pengaruh," komentar Kenneth Broux, analis dari Societe Generale.

"Kita membutuhkan beberapa waktu lagi supaya kondisi ini menetap... Saya rasa apa yang akan kita lihat adalah sedikit kemunduran atau koreksi dari aksi jual besar-besaran. Kita sedang dalam proses itu," lanjut Broux.

 

Tertekan Risk-On

Di tengah besarnya potensi keberhasilan sistem lockdown dalam memutus penyebaran Covid-19 di sejumlah negara, mata uang-mata uang berprofil risiko tinggi menguat bersama bangkitnya sentimen Risk-On. Sebaliknya, Dolar AS yang belakangan ini dibeli sebagai safe haven mulai melemah.

Adapun mata uang yang mendapat angin segar dari pelemahan Dolar AS hari ini adalah AUD/USD. Pasangan mata uang tersebut mendulang kenaikan 1.92 persen ke 0.6199 saat berita ini dipublikasikan. Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak tanggal 16 Maret.

Mata uang berikutnya adalah Poundsterling. Meskipun PM Inggris Boris Johnson dikabarkan kritis karena mengidap Corona, mata uang Inggris tetap bisa mengambil untung dari pelemahan Dolar AS. Lagipula, meskipun Johnson sedang sakit, kebijakan lockdown di Inggris kemungkinan tak akan berubah. GBP/USD naik 1.01 persen ke 1.235 malam ini.

292566

Sudah aktif berkecimpung di dunia jurnalistik online dan content writer sejak tahun 2011. Mengenal dunia forex dan ekonomi untuk kemudian aktif sebagai jurnalis berita di Seputarforex.com sejak tahun 2013. Hingga kini masih aktif pula menulis di berbagai website di luar bidang forex serta sebagai penerjemah lepas.