Advertisement

iklan

Penjualan Ritel Inggris Dorong Poundsterling Naik Terbatas

Laju penjualan ritel mengisyaratkan ketangguhan ekonomi Inggris, tetapi Poundsterling tetap menghadapi kesulitan untuk reli.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Poundsterling menanjak sekitar 0.25 persen ke kisaran 1.2100 terhadap Dolar AS pada pertengahan sesi Eropa hari ini (15/Agustus), digenjot oleh data penjualan ritel yang meningkat secara tak terduga. Akan tetapi, upaya rebound Sterling tetap menghadapi halangan besar karena eskalasi ketidakpastian brexit. Saat berita ditulis, GBP/USD sudah menjauh dari level tertinggi harian.

GBPUSD DailyGrafik GBP/USD Daily via Tradingview.com

UK Office for National Statistics (ONS) melaporkan bahwa penjualan ritel mencetak kenaikan 0.2 persen (Month-over-Month) pada bulan Juli 2019 (versus estimasi -0.2 persen). Pertumbuhan tahunan melambat dari 3.8 persen menjadi 3.3 persen (Year-on-Year), tetapi tak seburuk estimasi awal (2.6 persen). Kenaikan ini terutama disebabkan oleh pertumbuhan aktivitas belanja online yang mencapai 6.9 persen dalam sebulan.

Data penjualan ritel Inggris kali ini menunjukkan bahwa belanja konsumen masih menjadi supporter terkuat bagi perekonomian, meskipun investasi mengalami kemerosotan di tengah ketidakpastian brexit. Inflasi pun tetap tinggi karena ditopang oleh minat belanja masyarakat. Meski demikian, ketidakpastian brexit masih terus membebani outlook ekonomi Inggris dan nilai tukar Poundsterling.

Dalam sebuah event Facebook Live pada hari Rabu, PM Boris Johnson menuding para anggota parlemen (yang ingin memblokir brexit) telah bersekongkol dengan Uni Eropa. Menurutnya, ia ingin Inggris keluar dari Uni Eropa dengan membawa suatu kesepakatan yang bagus, tetapi Uni Eropa harus berkompromi terlebih dahulu; sedangkan tindakan para anggota parlemen malah mempersulit upayanya tersebut.

"Ada kolaborasi yang sangat buruk di sini, terjadi antara orang-orang yang berpikir mereka bisa memblokir brexit di Parlemen dan teman-teman Eropa kita. Semakin mereka (Uni Eropa) berpikir ada kemungkinan brexit bisa diblokir di Parlemen, semakin mereka bersikukuh pada posisi mereka," kata Johnson.

Setelah dilantik sebagai PM, Boris Johnson menyatakan bahwa ia hanya bersedia berunding lagi dengan Uni Eropa apabila UE bersedia menghapus pasal-pasal terkait perbatasan Irlandia. Sikap tersebut telah meningkatkan probabilitas terjadinya "No-Deal Brexit" dan pemilu dini. Hasil survei Reuters terbaru menunjukkan kenaikan ekspektasi "No-Deal Brexit" dari 30 persen pada bulan Juli menjadi 35 persen pada bulan Agustus.

289681

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.


11 Jun 2020

Kesulitan Akses Seputarforex?
Silahkan buka melalui https://bit.ly/seputarforex


Alternatifnya, lakukan solusi ini jika Anda mengakses lewat:
PC   |   Smartphone