Advertisement

iklan

Pertumbuhan GDP Inggris Gagal Memacu Kurs Pound Sterling

Penulis

+ -

Kurs pound sterling masih unggul versus yen, tetapi tertekan terhadap beragam mata uang utama lainnya.

iklan

iklan

Seputarforex - Kurs Pound Sterling melanjutkan pelemahan ke kisaran 1.3060-an terhadap dolar AS dalam perdagangan sesi Eropa hari ini (11/Maret), meskipun publikasi data Produk Domestik Bruto (GDP) Inggris menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat daripada periode Januari 2022. Sterling masih unggul versus yen lantaran ekspektasi suku bunga Inggris yang lebih tinggi daripada Jepang, tetapi tertekan terhadap beragam mata uang utama lainnya.

GBPUSD Daily Grafik GBP/USD Daily via TradingView

Pound telah melemah sekitar 1.6 persen terhadap euro dan 0.86 persen terhadap dolar AS selama sekitar sepekan terakhir. Sterling bahkan terancam menjadi salah satu mata uang maayor berkinerja terburuk lantaran lemahnya sentimen pasar global.

Laporan GDP Inggris terbaru menunjukkan pertumbuhan 0.8 persen (Month-over-Month) pada bulan Januari 2022, atau lebih tinggi daripada ekspektasi konsensus yang sebesar 0.2 persen saja. Pertumbuhan GDP Year-on-Year pun melambung dari 6.0 persen menjadi 10.0 persen. Namun, data-data ini mewakili situasi ekonomi sebelum pecahnya perang Rusia-Ukraina.

Pasar tak lagi menganggap data tersebut relevan, karena perang sejak akhir Februari telah mengobrak-abrik outlook ekonomi kawasan. Peningkatan harga komoditas mendorong laju inflasi makin meninggi, sementara laju pertumbuhan global kemungkinan bakal melambat. Prospek kenaikan suku bunga bank sentral Inggris (BoE) pada pekan depan sedikit menggentarkan peminat aksi jual sterling, tetapi agaknya tak mampu mencegah pelemahan jangka pendek.

The Guardian melaporkan gas borongan untuk pengiriman bulan depan di Inggris tadi pagi berada pada harga 276p per therm, atau enam kali lipat lebih mahal daripada tahun lalu. Situasi ini berdampak domino bagi berbagai industri yang semakin kesulitan beroperasi lantaran biaya-biaya yang semakin tinggi, serta rumah tangga yang harus berhemat.

Paul Dales dari Capital Economics mengatakan, "Mengingat bahwa kasus Omicron masih sangat tinggi pada paruh pertama Januari, sebagian rebound dalam aktivitas (ekonomi) mungkin telah mengalir ke Februari juga (walaupun badai Eunice mungkin menjadi hambatan). Tetapi pukulan terhadap pendapatan disposabel riil rumah tangga karena melonjaknya harga energi, sebagian karena perang di Ukraina, dan pajak yang lebih tinggi akan mulai dirasakan mulai Maret dan April. Dengan demikian, pertumbuhan GDP mungkin akan melambat sepanjang sisa tahun ini."

Pound sterling tergolong mata uang high risk yang cenderung melemah di tengah gejolak pasar. Sejarah menunjukkan kurs pound terpukul pada krisis keuangan 2008, juga saat merebaknya pandemi pada awal 2020.

Harapan untuk tercapainya gencatan senjata antara Rusia dan Ukraina dapat menanggulangi pelemahan sterling dan higher risk currencies lain. Namun, negosiasi Rusia-Ukraina di Turki kemarin berakhir nihil.

Download Seputarforex App

297459
Penulis

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.