OctaFx

iklan

PM Abe Luncurkan Stimulus Raksasa Setara 20 Persen GDP Jepang

Tak mau kalah dengan negara-negara lain, PM Jepang Shinzo Abe meluncurkan stimulus ekonomi sebesar 1 triliun Dolar AS demi memerangi dampak COVID-19.

Advertisement

iklan

Xm

iklan

Seputarforex.com - Era stimulus fiskal telah tiba. PM Jepang Shinzo Abe meluncurkan paket stimulus fiskal dengan skala setara 20 persen dari total GDP Jepang, guna memerangi dampak negatif virus Corona (COVID-19). Paket sebesar 108 triliun Yen (hampir 1 triliun USD) tersebut dijadwalkan akan dikonfirmasi oleh Kabinet hari ini (7/April).

PM Jepang Shinzo Abe

Seusai rapat dengan pejabat senior partai-nya, PM Shinzo Abe mengatakan kepada wartawan, "Kami memutuskan untuk mengeluarkan paket ekonomi berskala masif yang belum pernah ada sebelumnya senilai 108 triliun Yen, atau 20 persen dari GDP, menyusul besarnya kerusakan pada perekonomian akibat virus Corona baru ini."

PM Abe belum memberikan rincian lebih lanjut tentang alokasi stimulus, tetapi nominal yang disebutkannya jauh melampaui ekspektasi analis. Dengan demikian, penyaluran diperkirakan akan memberikan rasa aman tambahan bagi masyarakat yang mengalami penurunan pendapatan dan diminta tinggal di rumah.

"Dampaknya akan terbatas dalam mendorong konsumsi, karena banyak orang menunda pergi berbelanja," kata Masaki Kuwahara, ekonom senior Nomura Securities, sebagaimana dilansir oleh The Japan Times, "Tetapi (paket stimulus) itu dapat mencegah efek ronde kedua merusak perekonomian."

Kemarin, PM Shinzo Abe telah menyatakan akan mendeklarasikan kondisi darurat di tujuh prefektur yang mengalami kenaikan jumlah kasus COVID-19 paling pesat. Kondisi darurat yang akan diumumkan hari ini tersebut sempat dikhawatirkan bakal mendorong dilakukannya lockdown di Tokyo dan berdampak negatif bagi pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks yang sama, stimulus fiskal dari pemerintah Jepang merupakan angin segar bagi pebisnis maupun investor.

Menyusul publikasi kabar ini, USD/JPY diperdagangkan stabil pada kisaran 108.75. Dari belahan dunia berbeda, sejumlah negara bagian AS melaporkan perlambatan pertumbuhan kasus baru. Pelaku pasar masih waspada menyikapi laporan tersebut, tetapi muncul harapan akan segera terlampauinya "puncak" pandemi di negeri Paman Sam.

292558

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.