OctaFx

iklan

PM Inggris Kritis Di ICU, Pound Gagal Reli

Meski awalnya masuk rumah sakit karena perlu perawatan biasa, tetapi PM Inggris Boris Johnson mendadak kritis dan harus dirawat di ICU.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - PM Inggris Boris Johnson dikabarkan mendadak kritis sehingga harus dipindahkan ke ruang gawat darurat (ICU). Sebelumnya, ia hanya diminta untuk dirawat di rumah sakit karena gejala COVID-19 yang tidak kunjung reda dalam kurun waktu lebih dari seminggu. Akan tetapi, tadi malam kondisinya memburuk secara tiba-tiba. Situasi meningkatkan kewaspadaan pelaku pasar, sehingga nilai tukar Pound dibuka melemah pada 1.2231 versus Dolar AS dalam perdagangan hari ini (7/April).

GBPUSD DailyGrafik GBP/USD Daily via Tradingview.com

Sejak mulai merebaknya wabah virus Corona (COVID-19) ke seluruh dunia pada bulan Januari, pelaku pasar terus mencari tanda-tanda "puncak" pandemi yang akan diikuti oleh penurunan jumlah kasus dan meredanya gejolak ekonomi. Akan tetapi, harapan demi harapan muncul silih berganti dengan realita yang memburuk di lokasi berbeda. Baru pekan lalu, negara-negara di Eropa daratan melaporkan penurunan pertumbuhan kasus baru; pekan ini giliran Inggris mencatat pertumbuhan kasus COVID-19 yang semakin pesat. Bahkan, PM Inggris Boris Johnson terpaksa masuk ICU lantaran gejala COVID-19 yang dideritanya memburuk.

Sejumlah analis memeringatkan tentang tingginya volatilitas dan ketidakpastian dalam situasi ini. Secara khusus, konstitusi Inggris tidak memuat rencana suksesi resmi apabila Perdana Menteri-nya tak sanggup lagi menjalankan tugas. Boris Johnson telah menunjuk Menteri Luar Negeri Dominic Raab sebagai deputi-nya, tetapi ia hanya akan dapat menjabat dalam jangka pendek.

"Pasar uang tetap cukup kalem, tetapi akan ada lebih banyak penurunan bagi sterling jika kondisi Johnson memburuk," ungkap Junichi Ishikawa, pakar strategi FX senior di IG Securities, sebagaimana dilansir oleh Reuters.

Para pakar menyatakan bahwa sistem politik Inggris menjamin pemerintahan tetap dapat berjalan meski Perdana Menteri mendadak tidak dapat melaksanakan tugasnya. Namun, apabila Johnson mengalami sesuatu yang tidak diinginkan, maka partai Konservatif perlu melaksanakan prosedur untuk memilih pemimpin baru lagi; hal mana akan membangkitkan ketidakpastian politik setempat. Perlu diingat, Inggris masih memiliki agenda panjang berupa negosiasi perdagangan dengan Uni Eropa, untuk menentukan hubungan kedua kawasan pasca brexit sebelum akhir tahun ini.

292554

Alumnus Fakultas Ekonomi, mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental untuk trading forex dan investasi saham. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.