Advertisement

iklan

AUD/USD bullish menguji garis SMA 200, NFP AS masih ditunggu, 7 jam lalu, #Forex Teknikal   |   IHSG dibuka menghijau pada level 7,144 pada perdagangan hari ini. Hingga akhir sesi I, penguatannya meningkat ke 7,165.54, 8 jam lalu, #Saham Indonesia   |   Michelle Gass akan gantikan Chip Bergh sebagai CEO Levi Strauss & Co. pada 29 Januari 2024 mendatang, 8 jam lalu, #Saham AS   |   Blackstone Inc. (NYSE: BX) gandeng Digital Realty (NYSE: DLR) untuk bangun empat pusat data hyperscale baru, 8 jam lalu, #Saham AS   |   Posisi PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) sebagai emiten terbesar BEI tersalip oleh PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) yang berhasil catat kapitalisasi pasar sampai Rp1,083 triliun, 8 jam lalu, #Saham Indonesia   |   Yen Jepang tetap kuat di tengah harapan Pivot BoJ, meski angka PDB lebih lemah, 9 jam lalu, #Forex Fundamental   |   GBP/USD bertahan di bawah level 1.2600 jelang Data NFP AS, 9 jam lalu, #Forex Teknikal   |   NZD/USD kehilangan momentum di bawah level 0.6170, mata tertuju pada Data NFP AS, 9 jam lalu, #Forex Teknikal
Selengkapnya

Powell: Kebijakan Fed Fokus Pada Sektor Tenaga Kerja

Penulis

Bidang tenaga kerja AS menjadi fokus utama dalam kebijakan The Fed, untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi AS yang lebih baik.

Advertisement

iklan

Advertisement

iklan

Seputarforex.com - Tenaga kerja AS menjadi sorotan utama dalam kebijakan moneter The Fed. Seperti itulah yang diungkapkan oleh Presiden The Fed Jerome Powell dalam pertemuan US Chamber of Commerce di Providence, Rhode Island. Powell menceritakan bahwa pihaknya telah mendengar banyak cerita tentang pengalaman para pengusaha dan sekolah yang telah berkolaborasi untuk melatih dan merekrut orang-orang dari berbagai tingkat pendidikan dan pekerja disabilitas.

"Manfaat dari ekspansi jangka panjang adalah menjangkau banyak komunitas mulai saat ini, dan banyak ruang untuk mencapai hal tersebut," kata Powell.

Ia mengungkapkan bahwa arah kebijakan saat ini sebagai respon data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan perlambatan di bulan September. Begitu juga dengan angka pengangguran AS yang meningkat di bulan Oktober dari 3.5% ke level 3.6%. Sedangkan tingkat pastisipasi pekerja AS saat ini mencapai 63.3%, level tertinggi dalam enam tahun terakhir. Namun, Powell mengatakan angka tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan negara maju lainnya. Hal tersebut juga menjadi fokus lain dari kebijakan The Fed.

"Meski data ini tidak signifikan mengubah outlook ekonomi kami. Namun, itu dapat mempengaruhi ekonomi dengan sedikit momentum," jelasnya.

Jumlah pengangguran yang meningkat dikhawatirkan bisa memberikan pengaruh terhadap inflasi AS, yang sejak kuartal ketiga kembali turun di bawah target 2% The Fed.

inflasi as

Grafik Inflasi AS sejak awal tahun 2019

 

Prospek Ekonomi AS Masih Cerah

Menanggapi hal itu, Powell menjelaskan bahwa pemotongan suku bunga dari 2.00% menjadi 1.75% dalam pertemuan FOMC Oktober lalu diperkirakan mampu merangsang pertumbuhan ekonomi AS ke depannya. Selanjutnya, Powell mengindikasikan bahwa The Fed tidak akan melakukan pemotongan suku bunga acuan lagi.

Meskipun pertumbuhan ekonomi global yang melambat serta ketidakpastian perang dagang AS-China turut adil mempengaruhi ekonomi AS, Powell menilai bahwa prospek ekonomi AS saat ini cukup baik, dengan ditopang positifnya data belanja konsumen, peningkatan pendapatan, serta tingkat kepercayaan konsumen.

"Pada titik ini, saya melihat (ekonomi AS ibarat) gelas yang terisi lebih dari setengah. Dengan kebijakan yang tepat, kita dapat mengisinya lebih lanjut dan membangun perekonomian lebih baik," jelas Powell.

 

USD/JPY Menguat Tipis

Optimisme outlook ekonomi AS seperti yang diungkapkan oleh Powell tampaknya sedikit menopang pergerakan Dolar AS saat sesi perdagangan Asia hari ini (26/November). Berdasarkan grafik berikut, USD/JPY menguat tipis 0.07% ke level 108.987.

nilai tukar usdjpy

291083
Penulis

Sudah terjun di dunia jurnalis sejak 2013. Aktif menulis di media cetak, online, dan website pribadi dengan berbagai macam topik. Selain itu, juga trading saham sejak 2018.