Presiden AS: Kesepakatan Dagang Tak Tercapai, Naikkan Tarif Lagi Saja

Amerika Serikat mendorong eskalasi konflik dengan China lagi melalui komentar Presiden AS Donald Trump dan pengesahan UU Hong Kong.

FirewoodFX

iklan

Advertisement

iklan

Presiden AS Donald Trump lagi-lagi melontarkan komentar bernada ofensif tentang kesepakatan dagang dengan China. Komentar itu tak memicu gejolak yang terlalu besar di pasar keuangan global, tetapi prospek kesepakatan dagang AS-China yang semakin memudar telah membuat investor dan trader bersikap lebih hati-hati dalam hampir semua pasangan mata uang mayor. Saat berita ditulis pada pertengahan sesi Asia (20/November), AUD/USD terguling 0.15 persen ke level 0.6817, sedangkan USD/JPY melemah hampir 0.1 persen ke level 108.45.

Donald Trump

Secercah harapan untuk tercapainya kesepakatan dagang AS-China sempat merebak kemarin, sehubungan dengan laporan Bloomberg bahwa negosiasi bakal mulai mempertimbangkan basis apa yang akan dipergunakan untuk membatalkan tarif impor AS terhadap produk-produk China. Namun, ekspektasi pasar langsung kandas gegara satu kalimat ancaman dari Presiden AS Donald Trump yang disampaikan hanya beberapa jam kemudian.

Dalam rapat kabinet Selasa malam, Trump mencatat bahwa China terus melanjutkan perundingan. Namun, kesepakatan apapun yang tercapai akan ditentukan olehnya. Ia juga mengancam akan menaikkan tarif impor lagi apabila kesepakatan tak tercapai.

"Jika kita tak membuat kesepakatan dengan China, saya akan naikkan saja tarif lebih tinggi lagi," tandas Trump.

Sementara itu, Senat AS sepakat mengesahkan sebuah perundangan yang ditujukan untuk melindungi hak asasi manusia di Hong Kong. Isi perundangan tersebut antara lain larangan ekspor peralatan kendali massa seperti gas air mata dan peluru karet ke kepolisian Hong Kong, sekaligus penerapan sanksi terhadap orang-orang yang dituduh melakukan pelanggaran HAM di sana. Pengesahan legislasi ini diperkirakan bakal semakin memperburuk relasi AS-China.

Sehari sebelumnya, CNBC melaporkan bahwa para pejabat China sekarang mencermati dinamika politik Washington, termasuk proses pemakzulan Trump dan pemilu presiden mendatang. Suara-suara sumbang di Beijing mewacanakan agar terus melanjutkan negosiasi, tetapi menunda kesepakatan karena posisi Trump dalam beberapa bulan ke depan masih belum jelas.

291015

Alumnus Fakultas Ekonomi yang telah mengenal dunia trading sejak tahun 2011. Seorang News-junkie yang menyukai analisa fundamental, biasa trading forex dan saham menggunakan Moving Averages dan Fibonacci. Kini menulis topik seputar Currency, Stocks, Commodity, dan Personal Finance dalam bentuk berita maupun artikel sembari trading di sela jam kerja.